Tampilkan postingan dengan label Firman Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firman Allah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

Kasus Ayat-ayat Yang Menyatakan Yesus Lebih Rendah dari Allah


Oleh : Romo Yohanes Bambang, MTS.

Dari pembahasan kita di atas telah kita buktikan bahwa sebagai Firman Allah yang berada satu di dalam diri Allah yang Esa dan memiliki dzat-hakekat ke-Ilahi-an yang satu dan yang sama di dalam diri Allah yang satu itu, maka dalam hakekat keilahianNya yang kekal Yesus Kristus adalah “setara dengan Allah” sebagaimana yang dikatakan :

”…Yesus Kristus, yang walaupun DALAM RUPA ALLAH, tidak menganggap ke-SETARA-an DENGAN ALLAH itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan MENGAMBIL RUPA SEORANG HAMBA…” (Fil 2:5-7)

 Ayat – ayat ini menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah “setara dengan Allah”, yaitu dalam keberadaanNya sebagai “rupa Allah” atau “Gambar Allah”, yaitu Firman Allah yang kekal. Namun dalam keberadaan “mengosongkan diriNya” ia telah “mengambil rupa seorang Hamba” berarti Ia adalah Hamba Allah. Sebagai “Hamba Allah” tentunya Ia tidak setara dengan Allah, lebih rendah dari Allah, dan adalah makhluk ciptaan Allah. Karena itulah dalam Kitab Suci di samping terdapat ayat-ayat yang menunjukkan ke-setara-an Yesus Kristus dengan Allah, dan berbeda satu di dalam diri Allah itu, terdapat juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Ia sama sekali berbeda dari Allah, lebih rendah dari Allah dan adalah makhluk Allah.
Para polemikus biasanya menggunakan ayat-ayat jenis kedua ini untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus hanya sekedar Rasul dan manusia biasa saja, dalam polemiknya menentang keyakinan Kriten Orthodox akan ke-Ilahian-a Yesus Kristus. Sedangkan kaum Saksi Yehuwa juga menggunakan ayat-ayat yang sama untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus meskipun telah ada sebelum dunia dijadikan namun Ia hanya sekedar makhluk pertama yang ciptakan Allah untuk membantu Allah Yehuwa dalam menciptakan makhluk-makhluk yang lain. Ayat-ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut :

“…Engkau (Bapa) satu-satuNya Allah yang benar, dan…Yesus Kristus yang telah Engkau utus…oleh sebab itu ya Bapa, permuliakan Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Ku-miliki dihadiratMu sebelum dunia ada” (Yoh 17: 3,5)

Baik pengikut Saksi Yehuwa maupun polemikus Islam, sering mengutip Yohanes 17:3 untuk membuktikan bahwa Yesus itu tak lebih dari seorang utusan(Rasul) dari Allah yang Esa. Bagi pengikut Saksi Yehuwa Ia hanyalah penjelmaan ciptaan pertama yang sudah ada sebelum dunia dijadikan. Bagi kaum muslimin, ini bukti bahwa Yesus adalah manusia yang diutus Allah, tak lebih dari itu. Tanpa menyangkal bahwa Yesus memang utusan Allah dan bahkan “Rasul..yang kita akui”(Ibr 3:1), kita harus melihat ayat ini dengan kaitannya dengan Yohanes 17:5 sebagai konteksnya. Dalam Yohanes 17:5, Yesus mengatakan bahwa Ia telah memiliki kemuliaan di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan. Pengakuan Yesus dalam doanya itu telah menggugurkan tafsiran bahwa Yesus hanya sekedar manusia biasa itu tak lebih dari itu. Sebab manusia biasa tak mungkin sudah ada sebelum dunia dijadikan. Namun itu belum menjawab sanggahan Saksi Yehuwah, sebab mereka juga percaya bahwa Yesus memang sudah ada sebelum dunia dijadikan, sebagai makhluk pertama yang membantu Allah dalam menciptakan. Faham ini tersanggah oleh Yesaya 44:24 yang mengatakan bahwa Allah hanya seorang diri dan tanpa pendamping ketika menciptakan dunia. Juga faham ini tersanggah oleh ajaran “Tauhid Rububiyah” yaitu bahwa Allah sendirian saja dalam memiliki kuasa dan menciptakan dunia.
Kalau demikian di mana Yesus sebelum dunia dijadikan itu dalam “hadirat” Allah itu ?. Yohanes 8:42, menegaskan “…AKU KELUAR…dari Allah…Yesus menyatakan diri “keluar dari Allah”, sebelumnya Ia berada dalam Diri Allah (“hadirat”) Allah, itu bukan wujud jasadNya yang keluar dari rahim Maryam itu, namun dalam keberadaan “ruh/ghoib” sebelum menjadi manusia. Jika Ia berada di dalam diri Allah, berarti Ia satu dalam dzat-hakekat Allah. Sebagai apa Yesus dalam keberadaan non-manusiawi itu berada dalam diri Allah ?. Sebagai hypostasis yang melaluiNya Allah menciptakan dunia ini (Ibrani 1:2-3). Padahal Allah menciptakan dunia ini melalui “Firman” (Yohanes 1:1-3, Kejadian 1, Mazmur 33:6), berarti Ia berada dalam diri Allah sebagai “Firman Allah” yang melekat dan berada satu di dalam dzat hakekat Allah yang satu itu. Dalam arti ini “Firman” memang menjadi “asal-usul dari segenap ciptaan Allah” atau sebagai “awal mula dari ciptaan Allah” atau sebagai “permulaan (mula-asalnya) dari ciptaan Allah” (Wahyu 3:12). Jadi Yesus bukan “permulaan dari ciptaan Allah” sebagai “ciptaan Allah yang pertama sekali” seperti yang ditafsirkan kaum Saksi Yehuwah, namun sebagai “permulaan asal dari segenap ciptaan Allah”, sumber asalnya dari mana ciptaan Allah itu dijadikan oleh Allah. Dengan demikian ke-Esa-an Allah tak terlanggar, seperti yang dilakukan oleh Saksi-saksi Yehuwah, dan ke-Ilahi-an Yesus dan kesatuanNya dalam dzat hakekat Allah sebagai “Kalimatullah” tidak disangkal, seperti yang dilakukan baik oleh polemikus Islam maupun oleh saksi-saksi Yehuwa. Dan karena “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:1), maka Ia telah hadir ke dunia, dan turun dari sorga (Yoh 6:38), dan turunNya dari sorga serta menjelma menjadi manusia ini adalah kehendak Allah, berarti Yesus memang diutus Allah untuk turun dari sorga ke bumi sebagai “Firman yang menjadi manusia”. Jadi memang Yesus adalah “Utusan Allah”, atau “Firman yang diutus kebumi oleh Allah”. Dengan demikian tidak ada kontrakdisi antara ke-Ilahi-an Yesus sebagai Firman yang menjelma, dengan keberadaanNya sebagai “utusan” itu. Maka utusan disini bukan hanya sekedar Rasul yang diangkat Allah untuk menyebarkan Firman Allah saja, namun Ia adalah memang Firman itu yang diutus turun ke bumi, tanpa meninggalkan kesatuanNya dengan Allah :

“Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapapun (berarti termasuk yesus Kristus sendiri)…Aku dan bapa adalah satu….Engkau, sekalipun seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah” (Yohanes 10:30-31)

“…Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yohanes 14:28)

Kedua ayat diatas menegaskan bahwa “Bapa” (Allah), lebih besar dari Yesus. Dengan demikian Yesus tidak sama dengan Allah, maka Yesus adalah sekedar makhluk saja: entahlah itu makhluk pertama yang membantu Allah mencipta dunia seperti ajaran saksi Yehuwah, ataukah hanya sekedar manusia biasa yang diangkat menjadi rasul seperti yang ditekankan oleh Islam. Pernyataan Yesus ini tidak boleh dikutip secarah terpisah dari konteksnya. Dalam Yohanes 10:29 ketika Yesus menyatahkan bahwa “Bapa lebih besar dari siapapun” termasuk dirNya itu, : ditegaskan lagi bahwa “Aku dan Bapa adala satu”, yang reaksi orang Yahudi langsung jelas mengerti bahwa Yesus “menyamakan diri dengan Allah” . Jikalau dalam konteksnya Yesus jelas dimengerti sebagai menyamakan diri dengan Allah, karena pernyataanNya akan satuNya dengan Allah itu, mengapa Ia mengatakan bahwa Bapa lebih besar dari diriNya ?

Jawabannya ada dua :

1. Dari titik pandang kekal, dimana hypostasis Bapa memang menjadi sumber dari asal FirmanNya sendiri. Artinya “Firman Allah” itu dikeluarkan /diperanakkan dari Allah, dan Firman itu ada karena Allah itu ada. Dalam arti inilah Allah dapat dikatakan sebagai kepala Kristus, karena Allah adalah sumber dan asal-usul dari keberadaan FirmanNya sendiri : “…Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah” (I Kor 11:3). Sebagai hypostasis yang dari padaNya Firman itu berasal sejak kekal abadi, dengan demikian Allah adalah Kepala dari Firman ini, maka dalam makna ini saja dapat dikatakan Bapa lebih besar dari Anak. Namun dalam dzat-hakekat keIlahian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil antara Allah dan FirmanNya, antara Bapa dan Anak…sebab Firman Allah berada dalam dzat hakekat Allah yang satu dan yang sama, -serta tak ada duanya-, yang berada didalam diri allah yang Esa itu. Maka Bapa tidak lebih Allah dari pada Firman. “Kepenuhan Allah” yang ada pada Bapa itu sepenuhnya bersemayam dalam Anak (Kol 1:19-2:9), karena Anak berada satu dalam diri Bapa. Jadi tidak ada “Allah kedua”, tidak pula ada “Allah Yehuwah” dan “allah” Ciptaan Pertama, atau “seorang allah” sebagai ciptaan yang dijadikan lebih dahulu, seperti ajaran saksi Yehuwah. Ajaran saksi Yehuwah ini adalah ajaran berhala, dan politheisme (musyrik) pada dasarnya.


2. Dari titik pandang Inkarnasi (“Firman itu menjadi manusia”). Sebagai yang telah mengambil “Rupa Hamba”, Yesus jelas lebih rendah dari Allah, jadi Allah memang lebih besar dari Yesus, dari titik pandang karya Inkarnasi ini. Dengan demikian dalam arti ini Allah memang AllahNya Yesus Kristus; “Kata Yesus kepadanya:”..Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu. AllahKu dan Allahmu” (Yohanes 20:17, Wahyu 3:12). Dan dalam arti sebagai Hamba Allah ini Ia dapat mengatakan : “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak ada seorang pun tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja” (Markus 13:32). Meskipun ini tak berarti bahwa dalam ke-Ilahi-an Nya sebagai Firman Allah yang kekal Ia tak tahu kapan datangnya kiamat. Sebab jikalau Ia mengetahui tanda-tanda akan datangNya kiamat, dan tanda – tanda akan kedatanganNya yang kedua kali, serta apa yang akan terjadi menjelang kiamat dan kedatanganNya yang begitu rinci dan mendalam itu, apakah sulitnya Ia untuk mengetahui kapan datangnya Hari itu (Matius 24). Perkataan diatas hanya diucapkan untuk memuliakan Sang Bapa, karena untuk tujuan itu Ia datang kedalam dunia. Dan karena Inkarnasi Kristus akan bersifat kekal, maka dari sini kodrat kemanusiaanNya ini maka di Hari Kiamat nanti :”…Anak akan menakhlukkan diriNya sendiri dibawah Dia, yang telah menakhlukkan sesuatu dibawahNya, supaya Allah menjadi semua didalam semua” (I Kor 15:29). Dan semua ayat manapun dalam seluruh Alkitab yang menunjukkan seolah-olah Yesus itu berbeda dan lebih rendah dari Allah, harus dilihat dari dua titik pandang ini. Entahlah dalam titik pandang kekal, sebagai “hypostasis Firman yang diperanakkan oleh Bapa” dimana Allah itu menjadi sumber dan asal-usulNya. Ataukah dari titik pandang Inkarnasi, dimana sebagai yang telah mengambil “Rupa Hamba” Ia memang makhluk Allah dan tidak sama serta lebih rendah dari Allah. Namun dalam keberadaanNya sebagai “Firman Allah” (Yoh 1:1), “Gambar Allah” (Kol 1:15, Ibr 1:3). “Rupa Allah” (Fil 2:5-6), “Anak Allah Yang Tunggal” (Yoh 1:18), Ia itu “setara dengan Allah” artinya melekat satu di dalam diri Allah, yang memiliki dzat-hakekat keilahian yang identik satu dan sama di dalam diri allah itu. Jadi semua mukjizat-mukjizat Yesus itu bukan “penyebab” Ia dianggap dan diper-Ilah sebagai Allah oleh orang Kristen Orthodox, namun justru sebaliknya, mukjizat-mukjizat itu bukti ke-Ilahi-anNya. Para polemikus sering mempermasalahkan bahwa jika Adam lahir tanpa Bapak-Ibu padahal Yesus lahir tanpa bapa saja mengapa Adam tidak dianggap Tuhan ? Jika Musa berbuat mukjizat dan Yesus juga berbuat mukjizat mengapa Musa tidak dianggap Tuhan, Jika Elia naik ke sorga dan Yesus naik ke sorga mengapa Elia tidak dianggap Tuhan ? dan pertanyaan lain yang senada dengan itu. 


Jawabannya :
1. Jika masalah mukjizat yang dijadikan acuan: tak satupun dari Nabi-Nabi yang disebutkan tadi dapat melakukan mukjizat seperti Yesus: Adam lahir tanpa bapak ibu, namun tak berbuat mukjizat, Musa dan Elia berbuat mukjizat , namun mereka tidak bangkit dari antara orang mati, dan tidak dilahirkan tanpa bapak-ibu, masing-masing ini hanya melakukan mukjizat-mukjizat sebagaian saja, sedangkan tak satupun yang dapat mengalahkan mukjizat Yesus. Lahirnya secara mukjizat, pelayanannya selurunya bersifat mukjizat, dan naik ke sorgaNya diberi segalah kuasa disorga dan diatas bumi. Tak seorang Nabipun yang memiliki syarat-syarat mukjijat seperti ini. Ini disebabkan para Nabi itu memang bukan Tuhan karena umat Kristen Orthodox mengakui Yesus sebagai Tuhan bukan disebabkan oleh “mukjizat-mukjizat” itu. Mukjizat-mukjizat Yesus bukti keberadaan kekalNya sebagai “Firman Allah” jadi bukan –“penyebab”- . Ia diangkat menjadi Tuhan.

2. Dari pengakuan-pengakuan Yesus sendiri. Ia mengakui sudah ada sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5,24, 8: 56-58), Ia menyatakan sudah berada di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5), Ia menyatakan “keluar dari Allah” (Yohanes 8:42), Ia menyatakan diri telah turun dari sorga (Yohanes 6:38), Ia menyatakan diri bukan berasal dari dunia ini (Yohanes 17:15) dan masih banyak lagi. Tak seorang Nabipun yang mengaku demikian ini. Dan pengakuan – pengakuan tadi dibuktikan oleh mukjizat-mukjizat tadi, yang berpuncak pada mukjizat kebangkitanNya dari antara orang mati. Tak ada seorang pun bangkit dari maut dan hidup terus, apalagi bangkit dari kekuatan kuasaNya sendiri seperti yang dilakukan Yesus (Yohanes 10:17-18). Peristiwa-peristiwa orang yang dihidupkan dari kematian baik oleh Nabi Elia, Elisa, maupun oleh Yesus Kristus itu hanya bersifat sementara, dan akhirnya orang itu mati lagi, jadi tak dapat disamakan dengan kebangkitan Yesus Kristus ke sorga. Karena mereka tidak bangkit dari kematian, namun hanya sekedar diangkat ke sorga, untuk natinya turun lagi kebumi agar mengalami kematian di tangan Anti-Kristus (Maleakhi 4:5-6, Wahyu 11:3-12), lalu dibangkitkan oleh kuasa Allah, naik ke sorga. Jadi prosesnya sama dengan manusia lain yang akan dibangkitkan diakhir jaman nanti, namun berbeda dengan kenaikan Yesus ke sorga yang diangkat dalam kemuliaan, diberikan segala kuasa baik di sorga maupun di bumi, serta yang duduk disebelah kanan Allah. Semua “kelemahan-kelemahan” Yesus: sebagai bayi kecil yang lemah, merasa lapar, merasa haus, bersedih, takut, berteriak “Eli, Eli Lama Sabakhtani” ketika disalibkan, mengalami kematian, dan segenap cirri-ciri kemanusiaan yang lain, adalah bukti bahwa Yesus benar-benar manusia sejati. Jika ia tidak memiliki itu semua Ia justru bukan manusia, dan ini bertentangan dengan ajaran Alkitab bahwa Firman itu “TELAH MENJADI MANUSIA” (Yohanes), dan bahwa: “…DALAM SEGALAH HAL IA HARUS DISAMAKAN DENGAN SAUDARA-SAUDARANYA (Manusia)..” (Ibr 2:17). Data-data “kelemahan-kelemahan” Yesus secara manusia itu adalah bukti kebenaran Alkitab yang menyatakan bahwa dalam segalah hal Yesus sama dengan manusia. Dan sering data-data kemanusiaan ini yang digunakan oleh para polemikus Islam untuk menyangkal ke-Ilahi-an Yesus. Kita juga akan menyangkal ke-Ilahi-an Yesus dari data kemanusiaan itu, karena Iman kita mengatakan yang manusia dalam Yesus itu tak berbaur dengan yang ilahi. Yang Ilahi adalah inti pribadi terdalam dari manusia Yesus yang adalah “Firman Allah” (yang meskipun sedang nuzul sebagai manusia, pada saat yang bersamaan tetap hadir satu dalam dzat hakekat Allah), dan itulah yang kita sembah, bukan makhluk manusiaNya. Kita tak menyembah makhluk namun menyembah Allah dalam FirmanNya. Dalam jubah “daging kemanusiaanNya” itu pandangan Iman orang Kristen Orthodox tidak hanya berhenti disitu saja, namun dapat menembus jauh kedalam, yaitu melihat Firman yang menjadi inti pribadi Yesus sebagai Firman Allah. KemanusiaanNya adalah jubah ke-ilahi-anNya dalam nuzulnya atau turunNya serta penampakanNya kepada manusia. Kita tidak menyembah jubahNya, namun inti pribadi yang ada di dalam jubah itu, yaitu “Firman Allah”, namun karena jubah itu tak dapat dilepaskan dari Sang Pemakai Jubah, maka penyembahan kita harus melalui dan melewati jubah itu untuk sampai kepada Sang Pemakai Jubah itu, yaitu Firman Allah sendiri, karena Ia berada dalam jubah itu, dan tak terpisah dari Jubah itu, karena jubah itu berwujud suatu kemanusiaan yang hidup dan berakal-pikiran secara sempurna. Itulah sebabnya mukjizat-mukjizat Yesus memang tak dapat disamakan dengan mukjizat siapapun dari antara para Nabi, maka jelas tak mungkin seorang Kristen Orthodox dapat mengakui siapapun diantara para Nabi sebagai Tuhan dikarenakan mukjizat-mukjizat mereka, karena mereka memang bukan Allah. Sedangkan Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan (Yohanes 13:13), karena Ia memang adalah Firman Allah yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1).

Selasa, 30 Juli 2013

Allah Yang Esa , Tritunggal Maha Kudus

Oleh : Romo Yohanes Bambang, MTS.

Pengantar : Landasan Pemahaman Berdasarkan Pengakuan Iman Nicea

Mengenai keberadaan Allah Yang Esa itu Pengakuan Iman Nicea selanjutnya mengatakan bahwa Allah yang hanya satu dan diberi gelar “Sang Bapa Yang Mahakuasa” ini memiliki keradaan yang sangat unik, karena di dalam kesatuan diriNya itu memilki “Anak Tunggal” yang bukan berasal dari luar kodrat Allah “Yang diperanakan dari Sang Bapa” bukan dengan suatu permulaan waktu tetapi “sebelum segala zaman” yaitu dari dalam kekekalan. Berarti dalam kekekalan itulah Allah ini dalam kodratnya sendiri “memperanakkan Anak Tunggalsebagai pancaran atau pantulan diriNya sendiri yang adalah terang (Nur) itu. Sehingga Anak Tunggal Allah yang berada kekal dalam kodrat Allah ini disebut “Terang Yang Keluar Dari Terang”.
Sebagai pancaran dari Nur yang adalah Allah, maka jelas yang terpancar atau terpantul berwujud Nur pula.  Karena ada satu Allah yang bersifat Nur, maka Allah nyang Satu ini pastilah Allah yang sejati. Pancaran Diri Allah yang sejati yang berasal dari Kodrat DiriNya yang berwujud “Nur yang keluar dari Nur (allah)” ini, jelaslah memiliki sifat yang sama dengan Allah yaitu “Allah Sejati yang keluar dari Allah sejati”. Dengan demikian pancaran Nur Ilahi yang berkodrat Allah sejati itu bukan makhluk, yaitu Dia “bukan diciptakan” namun “diperanakkan” yaitu dikeluarkan secara kodrati dari kodrat Ilahi sendiri di dalam kekekalan, sehingga kodratNya sama dengan asal-usulNya : Allah yang Esa. Berarti Nur yang keluar dari Nur ini berada dalam “Satu dzat-hakekat dengan Sang Bapa” karena Allah itu memang hanya satu yang “Dzat – hakekatNya” satu pula.
Mengikuti rincian makna Pengakuan Iman ini kita melihat sekarang bahwa yang disebut “Anak Allah” ini bukan makna kata jasmaniah. Sebab meskipun ada kata-kata “diperanakkan” dan “Anak Tunggal”, tetapi kita tak menjumpai kata “Ibu” atau yang “Wanita pengandung Anak Allah”. Tak pula kita jumpai kata kapan saat Anak Allah itu dilahirkan. Dia diperanakan di luar waktu, “sebelum segala zaman”, berarti dia diperanakkan terus-menerus di dalam dzat-hakekat Allah yang satu itu. Karena arti “memperanakkan” di sini adalah mengeluarkan, atau juga memantulkan, berarti Allah selalu memantulkan Cahaya DiriNya dalam DiriNya sejak kekal, dan itulah makana diperanakkan itu.
Siapakah yang disebut Anak Allah yang berasal dalam diri Allah Yang Esa ini ? Dijelaskan oleh Pengakuan Iman itu “Yang MelaluiNya segala sesuatu diciptakan”. Dan kita tahu menurut Alkitab bahwa Allah menciptakan segalah sesuatu melalui “FirmanNya” atau “SabdaNya”. Jika demikian jelas yang dimaksud Anak Tunggal di sini bukan makhluk atau ciptaan yang diadakan oleh Allah, namun Ia adalah Firman Allah yang kekal, yang melaluiNya Allah mengadakan sekalian makhluk atau segenap ciptaan.
Itulah sebabnya Ia satu dzat-hakekat dengan Allah, dan memiliki sifat Ilahi, dan keluarNya dari Allah sendiri, karena Ia berada satu di dalam Allah Yang Esa itu sendiri. Karena Allah yang Esa itu disapa dengan gelar kias sebagai “Bapa”, maka “Firman Allah” yang berasal dari kandungan dzat Allah dan yang keluar dari Allah yang Esa itu disebut dengan gelar kias “Anak”. Karena Allah itu Esa, maka FirmanNya juga hanya ada satu saja. Padahal Firman Allah ini diberi gelar kias sebagai “Anak”, maka jelas Firman yang hanya satu itu, disebut dengan gelar kias “Anak Tunggal Allah”, karena Allah memang tak beranak maupun diperanakkan dalam pengertian jasmani yang kita kenal.
Firman Allah yang kekal itu disebut “Anak Yang Tunggal” (“Firman itu…sebagai Anak Tunggal Bapa…”),(Yohanes 1:14), serta “Anak Tunggal Allah/Bapa” yaitu Firman Yang Kekal itu dinyatakan sebagai yang “ada di pangkuan Sang Bapa” (Yoh 1:18), dan “Pangkuan Bapa” adalah “Dzat-Hakekat Bapa/Allah”. Dengan demikian Firman Allah yang dikiaskan sebagai “Anak Tunggal Allah” itu memang berada dalam “Dzat Hakekat Allah” yang Esa itu.

Sedangkan mengenai Roh Allah yang kekal dikatakan :
…Roh…menyelidiki…hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah …yang tahu, apa yang terdapat dalam diri manusia, …roh manusia itu sendiri yang ada didalam dia…yang tahu, apa yang terdapat diri Allah…Roh Allah” (I Kor 2:10-11).
Roh Allah berada dalam diri Allah, sebagaimana roh manusia ada dalam diri manusia. Firman Allah ada di”pangkuan Bapa” yaitu dalam hakekat Bapa yang satu. Dengan demikian dalam dzat-hakekat Allah yang Esa itu berdiamlah FirmanNya yang kekal dan RohNya yang kekal. Sehingga hanya Allah Yang Esa (Bapa) itu sendiri, beserta Firman serta RohNya uang ada di dalam Diri dan Dzat-HakekatNya Yang Esa itu saja yang mengerti dzat-hakekat dai pada Allah tersebut.

Allah yang Esa ini juga memiliki Roh Kudus, yaitu Roh yang “Keluar dari Sang Bapa”, yang berarti Roh ini asalnya juga dari Sang Bapa (Allah Yang Esa) itu dan berdiam di dalam Diri Allah Yang Esa itu. Dengan demikian Allah yang Esa itu merupakan pokok dan sumber yang dariNya Anak Tunggal Allah (“Firman Allah yang hanya satu-satuNya”) diperanakkan sejak kekal (“Diperanakkan dari Sang Bapa”) dan dariNya pula Roh Kudus itu dikeluarkan dari kekal (“Keluar dari Sang Bapa”).
Melalui Anak Tunggal (“FirmanNya yang hanya Satu”) ini Allah menciptakan (Allah…Pencipta…) segalah sesuatu (“yang melaluiNya segala sesuatu diciptakan”). Padahal dalam Kitab Suci yang menjadi sarana penciptaan dalam diri Allah adalah “Firman Allah” berarti yang dimaksud dengan Anak Allah itu, sebagaimana yang telah kita katakana di atas, tak lain adalah “Firman Allah” sendiri. Itulah sebabnya Ia satu dalam dzat-hakekat Allah. Tetapi dalam memberikan hidup dan kehidupan kepada segala sesuatu yang telah diciptakan melalui “Firman”Nya yaitu “Anak Tunggal”Nya itu Allah menggunakan RohNya yang disebut Roh Kudus (“Roh Kudus…Sang Pemberi Hidup…”). Demikianlah maka Roh Kudus sebagaimana Anak Allah yang melaluiNya Allah menciptakan segala sesuatu itu, menjadi “Tuhan” (Penguasa) bagi segenap makhluk. Maka jelaslah Allah itu memang satu, sehingga Roh Kudus itu “bersama Sang Bapa” artinya dari dalam hakekat Allahlah Roh Allah berasal, “dan Sang Putra” karena Anak Allah yang adalah “Firman Allah” beradanya dalam Dzat hakekat Allah yang Esa bersama dengan Roh Allah sendiri, “disembah dan dimuliakan”. Demikianlah penyembahan umat Kristen Orthodox kepada Allah Yang Esa itu penyembahan yang bersifat hidup dan intim, karena dia menyembah Allah melalui Firman Allah yang menghantar manusia kepada Allah, dan melalui Roh Allah yang memberikan terang dan hidup untuk menyatu dengan Allah yang Esa itu. Dan fakta keberadaan Allah yang Esa yang demikian inilah yang dalam Theologia Orthodox disebut sebagai “Tritunggal Mahakudus”.
Dengan demikian dalam Iman Kristen Orthodox Roh Kudus bukanlah nama Malaikat Jibril namun Roh Allah sendiri. Malaikat Jibril adalah ciptaan dari Roh Kudus ini juga, sebab malaikat Jibril itu diberi hidup oleh Allah melalui RohNya ini juga sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Karena Allah itu Esa, yaitu Bapa tadi, maka haruslah memang FirmanNya (Anak) itu berasal dari dan berdiam di dalam Allah yang Esa yaitu Bapa ini, demikian pulah RohNya pun harus keluar dari dan berdiam dalam Bapa yang Esa ini, dengan demikian Keesaan Allah terjaga. Karena Allah itu memang  Satu, Esa, tiada tandingan atau sekutu bagiNya. Jadi Tritunggal Maha Kudus adalah Allah yang Esa (Sang Bapa) yang memiliki dalam dzat-hakekatnya yang Esa Firman yang kekal (Anak) dan Roh yang kekal (Roh Kudus) yang berada dan melekat satu di dalam DiriNya yang Esa itu.
Jadi istilah “Tritunggal Maha Kudus” itu bukan berbicara mengenai jumlah Allah, namun mengenai keberadaan di dalam diri Allah yang Esa tadi tiada terbilang dan satu tiada bandingan itu. Iman Kristen Orthodox tidak percaya adanya Allah yang lebih dari satu karena Allah itu Esa menurut Alkitab. Jadi Tritunggal bukan “Tiga” IlaH seperti yang dikatakan dalam An-Nissa 171 :”Hai ahlil Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu…..dan janganlah kamu katakana : Tuhan itu tiga….”. Tritunggal bukanlah “Tiga Tuhan yang terpisah-pisah” atau “Tiga Tuhan yang digabungkan” atau “Tiga Tuhan yang dipersatukan”, namun itu adalah sebutan bagi Allah Yang Esa itu sendiri yang dalam dzatNya memiliki Kalimat dan Ruh yang kekal tanpa awal maupun akhir. Bukan pula Allah dalam pemahaman Tritunggal itu sebagai “yang ketiga daripada yang tiga” seperti yang dikatakan dalam Al-Maidah 72 karena Allah itu hanya satu-satuNya dan yang pertama dalam DiriNya yang Esa yang memiliki Kalimat dan Ruh kekal itu. Serta lebih bukan lagi jika Allah itu adalah “Isa dan Ibunya”  sebagai tuhan-tuhan /ilah-ilah “di samping Allah” seperti yang dikatakan dalam Al-Maidah 116, sebab Tritunggal itu bukan terdiri dari unsur-unsur, namun Dzat Azali dari Allah sendiri yang memiliki Kalimat dan Roh yang kekal itu. Maryam tak perna disebut sebagai isterinya Allah, sebagai tandingan atau pasangan dari Allah Bapa. Jika sampai ada pemikiran yang demikian jelaslah itu pemikiran yang amat sesat, dusta dan terkutuk. Maryam adalah “hamba Allah” (Lukas 1:38), sama seperti “Isa”pun adalah “Hamba Allah” dalam penjelmaan sebagai manusia (Filipi 2:5-7).