Tampilkan postingan dengan label inkarnasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inkarnasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Ulasan Theology "Doa Bapa Kami" (2)

Oleh : Romo Yohanes Bambang, MTS.


II. “DIKUDUSKANLAH NAMAMU ...”

Kata “dikuduskanlah” dalam bahasa Yunani adalah kata “AGIASTHETO” yang berarti “disucikan”, sedang Wiliam Barclay mengerti kata “Hallowed” adalah bagian dari kata kerja Yunani “Hagiazesthai”. Dan kata kerja “Hagiazesthai” dihubungkan dengan kata sifat “Hagios” yang berarti “kudus” atau “suci”. Dengan demikian kata “dikuduskan” harus dimengerti sebagai sesuatu yang berbeda dari yang lain, yang dalam bahasa Ibrani disebut “Khados” yang berarti “disendirikan, terpisah atau dalam bahasa Jawa disebut dengan “sineker”.

Berpijak dari arti inilah, maka bukan tanpa tujuan atau maksud Tuhan Yesus mengajar para murid bagaimana seharusnya berdoa.
Pertama harus pada pijakan yang benar,serta mengerti secara hakiki terhadap apa yang dipercayai.

Itu sebabnya Tuhan Yesus memulai dalam doaNya menyebut nama “Bapa”, yang berarti bahwa doa itu tidak dapat dilakukan dengan cara serampangan atau semaunya saja, namun hal itu harus dilakukan dengan penuh khidmat, hening, rasa gentar, rendah hati, rasa sesal dan ketergantungan mutlak pada Dia yang memberi hidup. Dengan mengetahui bahwa sebutan “Bapa” itu bukan hanya sembarang sebutan, namun itu menunjuk pada pribadi Allah yang Maha Agung, Maha Mulia, Maha Kudus, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui hati makhlukNya dan Maha Memberi hidup, maka tak ada cara yang tepat untuk mendekati Allah selain datang dengan penuh kagum akan kebesaranNya dan mengucapkan “Dikuduskanlah namaMu”.

Dengan mengatakan “Dikuduskanlah namaMu” mengandung suatu pengertian bahwa orang percaya diajak untuk berhenti “menguduskan atau memuliakan diri sendiri”, karena dengan memuliakan diri sendiri, sebenarnya saat itu juga telah menipu diri sendiri. Pemuliaan diri sendiri tidaklah pernah menguntungkan hidup, namun justru membawa pada malapetaka, kebejatan, kesesatan dan tak pernah dekat dengan Allah.

Itu sebabnya Romo Arkhim. George mengatakan, “Men can not glorify God when they glorify themself.” [1] (manusia tidaklah dapat memuliakan Allah ketika mereka memuliakan diri mereka sendiri). Artinya bahwa ketika manusia memfokuskan hidupnya hanya untuk diri mereka sendiri, maka tak dapat diingkari lagi mereka tak mungkin dapat dan tak mampu memuliakan Allah.

Hal ini karena hidup mereka cenderung untuk memuaskan nafsu mereka sendiri dan mencari ketenaran pribadi dengan beraneka ragam tingkah dan pola serta melupakan Allah sebagai pribadi yang memberi kehidupan.
Yang diajarkan oleh Yesus pada para muridNya memang menghentakkan manusia untuk menyadari akan dirinya bahwa tiada kedamaian serta keteduhan dalam hidup ini kecuali mampu mengekspresilan kasih pada Allah dengan sujud memuliakan dan menguduskan Allah dalam hidup.

Atas dasar inilah Js. Gregorius Palamas mengatakan : “ Man is truly glorified when he glories God ” (manusia sungguh-sungguh dimuliakan ketika ia memuliakan Allah).

Jadi dimuliakan dan tidaknya manusia tergantung pada bagaimana sikap manusia itu sendiri pada Allah. Jika dalam hidup ini tidak dipergunakan sebagaimana mestinya yang dikehendaki oleh Allah, seperti misalnya : berbuat kebajikan pada orang lain, sebagai pendamai, dermawan, sabar, murah hati, kasih setia dan mampu menguasai diri, maka berarti bahwa itu tidaklah mempergunakan hidup itu dengan baik dihadapan Allah atau dengan kata lain tak dapat mempergunakan hidup ini untuk memuliakan Allah.

Disini jelas permasalahannya bahwa memuliakan nama Allah itu bukan hanya terbatas pada kata-kata, namun itu harus diwujud nyatakan dalam tindakan nyata dalam hidup saat ini. Bahkan berbuat baik pada orang miskin itu dipandang sebagai telah berbuat baik atau memuliakan Allah (Matius 25 : 40). Dan memuliakan Allah itu dipandang oleh Js. Gregorius Palamas sebagai cara untuk mendapat kemurahan Allah. Itulah sebabnya tidaklah salah jika Js. Ignatius dari Anthiokia pernah mengatakan bahwa Sang Sabda menjadi manusia, agar supaya manusia dapat menjadi seperti Allah. Artinya bahwa nuzul dan berinkarnasinya Sang Sabda membuka harapan bagi orang percaya yang sungguh-sungguh untuk mengambil bagian dalam kodrat Ilahi atau kemuliaan Allah (II Petrus 1 : 4). Ini merupakan takdir manusia diciptakan sebenarnya, yaitu hidup tak bercacat dihadapan Allah (Efesus 1 : 4).

Dengan demikian jelas bahwa tujuan Yesus mencantumkan kalimat “ dikuduskanlah namaMu “ saat mengajar para muridNya dalam berdoa Adalah untuk menyadarkan sekaligus untuk menegaskan bahwa Allah harus diposisikan sebagai Yang Maha Mulia dan Maha Kudus, hingga tak ada kata yang dapat untuk mengungkapkannya. Dan sebagai rasa kagum atas keagunganNya, timbul rasa kasih dan cinta yang diwujudkan dalam penyembahan (ortholatria) dan hidup yang benar (orthopraxia) dihadapan Allah.

[1] Archim. George. 1997. The Lord’s Prayer. Mt. Athos. Holy Monastery of St.Gregorios. Hal.22.


III. “ DATANGLAH KERAJAANMU ... “



Berita kerajaan Allah dapat dikatakan sebagai pusat daripada pemberitaan Yesus. Ini dikarenakan berita tentang kerajaan Allah merupakan suatu visi dan misi serta untuknya Sang Sabda itu nuzul dan berinkarnasi ke jagad (Lukas 4 : 43). Dimana Yesus itu berada tak pernah berhenti untuk menyampaikan berita tentang kerajaan Allah (Lukas 8 : 1). Bahkan ketika Yesus berbicara dengan orang Farisi, menegaskan bahwa kerajaan Allah itu tidak disertai dengan tanda-tanda jasmaniah, karena menurut Tuhan bahwa kerajaan Allah itu ada diantara mereka (Lukas 17 : 20-21). Disisi lain kerajaan Allah itu dipandang sebagai orang makan bersama (Lukas 13: 29), dan nasih banyak lagi ungkapan yang menyatakan tentang “kerajaan Allah” (Matius 8 : 12 ; Lukas 18 : 24 ; Matius 12 : 28 ; Matius 3 : 2).
Meskipun banyak kata yang menyebutkan kata “kerajaan”, tetapi disana tidak dijelaskan secara eksplisit tentang arti dan makna KERAJAAN ALLAH.  Dan untuk mengerti akan arti “KERAJAAN ALLAH”, maka diperlukan penyelidikan tentang data-data yang ada dalam INJIL.
Js. Matius dalam Injilnya menuliskan bahwa : “ Bertobatlah, sebab kerajaan Allah / kerajaan sorga sudah dekat “ (Matius 3 : 2).
Disisi lain Js. Lukas menuliskan bahwa : “ Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan : lihat, ia ada disini atau ia ada disana ! Sebab sesungguhnya kerajaan Allah ada diantara kamu “.(Lukas 17 : 20-21).
Pertobatan atau berpaling dari hidup lama menuju hidup baru, merupakan persyaratan untuk menyambut datangnya kerajaan Allah. Padahal pemberitaan yang Js. Yohanes pembaptis emban itu adalah berita tentang datangnya Yesus Kristus, bahkan ditegaskan pula untuk melepaskan kasutNyapun ia tak layak, dengan semikian yang dimaksud “ kerajaan Allah “ itu adalah “ pribadi Yesus Kristus “. Dan datangnya kerajaan itu tak terkait dengan tanda-tanda lahiriah, yang oleh Js. Paulus ditegaskan bahwa “kerajaan Allah “ itu bukanlah masalah makanan dan minuman, namun terkait dengan kebenaran, damai sejahtera dalam Roh Kudus (Roma 14 : 17), jika ini dikaitkan dengan Injil Yohanes 14 : 6, terungkaplah sudah bahwa “ kerajaan Allah “ yang dimaksud itu adalah “pribadi Yesus Kristus“, karena disana Yesus sendiri menegaskan bahwa “ DiriNyalah “ kebenaran itu sendiri.
Itu sebabnya tidaklah heran jika Yesus mengatakan pada orang-orang Farisi bahwa “ kerajaan Allah ada diantara kita “.

Dalam Gereja Orthodox yang merupakan kesinambungan tanpa putus dari Gereja mula-mula, mengerti bahwa Gereja itu adalah kerajaan Allah di atas bumi. Itulah sebabnya Romo Soterios, Episkop Agung (Reksagama / Uskup Agung) dari Gereja Tuhan mengatakan : “ The Church is the treasury of truth and divine grace. It is the ask of the salvation of man. It is the kingdom of  God on earth “. [1]
Kalau “ kerajaan Allah “ dimengerti sebagai “ GEREJA “, pertanyaannya adalah : “Apakah korelasi antara “KRISTUS” dan “GEREJA”, yang sama-sama dipandang sebagai “ KERAJAAN ALLAH “ ?.
Tentu saja ada suatu kaitan yang erat bahkan boleh dikatakan sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Dikatakan bahwa antara Kristus dan Gereja tak boleh dipisahkan, karena menurut Js. Paulus bahwa Kristus itu adalah sebagai kepala jemaat atau “ CHRISTOS KEPHALE TES EKKLESIAS“ (Efesus 5 : 23).
Dengan demikian baik pandangan Alkitab maupun para Bapa Gereja bahwa “kerajaan Allah “ itu dipandang sebagai “GEREJA” tidaklah bertentangan satu sama lain. Berpijak dari sinilah, bukan sesuatu yang mengherankan bahwa dalam liturgi Gereja Orthodox diawali dengan kata-kata : “Terberkatilah kerajaan Sang Bapa, Sang Putera serta Sang Roh Kudus, sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad. “. [2].

Gereja dipandang sebagai “’kerajaan Allah” karena dalam Gerejalah pembaharuan dan pengudusan itu telah terjadi. Pembaharuan dan pengudusan itu terjadi dalam Gereja berdasarkan makna inkarnasi Sang Sabda.
Menurut pandangan Gereja dan Alkitab, sebelum Sang Sabda itu nuzul dan menjelma (inkarnasi) menjadi manusia dengan sebutan Yesus Kristus, dari kekal sampai kekal Dia itu berada dalam Allah. Padahal Injil Yohanes menegaskan bahwa Allah itu bersifat Roh (Yohanes 4 : 24 ), maka dengan demikian Firman atau Kalimatullah yang berada dan diam dalam Allah bersifat Roh juga (Yohanes 10 : 30 ; 8 : 42), berarti Firman yang berada dan berdiam dalam Allah itu tak bertubuh jasmani, tak bertulang dan tak berdaging. Sang Sabda yang tak bertubuh jasmani itu atas kehendak Allah dalam DiriNya sendiri, telah menjelma menjadi daging (manusia) atau “ SARX EGENETO “ (Yohanes 1 : 14), dengan demikian Sang Sabda telah mengenakan keberadaan baru yaitu keberadaan sebagai manusia dan keberadaan tidak ada sebelumnya dalam diri Sang Sabda (Yohanes 1 :1-2). Dan dengan dikenakannya keberadaan baru yatu keberadaan jasmani dalam DiriNya, maka yang jasmani (benda jasmani) itupun telah diperbaharui, disucikan dan dikuduskan. Oleh karena itu dalam Gereja mula-mula atau lebih dikenal dengan sebutan Gereja Orthodox yang Katholik dan Apostolik, dapat dilihat dengan jelas bahwa benda-benda jasmani dapat dijadikan sarana oleh Allah untuk menyalurkan rahmatNya pada manusia, suatu misal : roti dan anggur dapat dijadikan sarana untuk menyalurkan rahmat Ilahi pada manusia dalam sakramen Perjamuan Kudus / Ekaristi Kudus (Matius 26 : 27-28), air dapat dijadikan sarana menyalurkan rahmatNya pada manusia dalam sakramen Baptisan (Roma 6 : 3-4), minyak dapat dijadikann sarana untuk menyalurkan rahmat Ilahi dalam sakramen Perminyakan Kudus (Yakobus 6 : 14), begitu juga cat dan kayu-kayu dapat dijadikan sarana untuk menyalurkan rahmatNya untuk melihat eskatologi dan Gereja yang tak nampak / Gereja yang jaya dalam ikon-ikon (gambar kudus) (I Yohanes 1: 1).
Jadi jelas berdasarkan makna inkarnasi benda-benda jasmani telah tertebus dan itu terjadi dalam Gereja. Itulah sebabnya tak dapat disangkal lagi bahwa bentuk  dan keindahan dalam Gereja mula-mula dengan ikon-ikonnya, lilin, lampu-lampu yang bergemerlapan, keindahan jubah liturgi yang dikenakan imam dan bau mewangi dari dupa ukupan itu nampak bagaikan sorga di atas bumi

Sehingga tidak mengherankan ketika pada sekitar tahun 980, para utusan Pangeran Vladimir yang Agung dari Kiev, Rusia, yang mengadakan penyelidikan dari semua agama yang ada, sepulang dari mengikuti Liturgi Suci di Gereja Aghia Sofia di Konstantinopel, Byzantium (sekarang : Istambul, Turki) mengatakan tentang tata ibadah suci tersebut : “ Kami tidak mengetahui apakah kami ada di atas bumi atau di dalam sorga “. Sebagai hasil Pangeran Vladimir dibaptis di Konstantinopel dan pada tahun 988 beribu-ribu bangsa Kiev dibaptis di sungai Dnieper, Rusia memasuki era kekristenan Orthodox dan Pangeran Vladimir dari Kiev dikanonkan sebagai seorang Janasuci yang dihormati oleh Gereja Barat (Roma Katholik) maupun Gereja Timur. Disinilah kesakralan, rahmat dan bahkan kuasa Allah melalui Sang Roh Kudus dinyatakan (Matius 12 : 28).
Dengan mengetahui bahwa arti “kerajaan Allah” itu menunjuk pada “GEREJA”, maka dalam “Doa Tuhan”, yang menyebutkan kata-kata “Datanglah kerajaanMu”, menunjuk pada artian bahwa Allah dalam diri Yesus Kristus telah mengantisipasi akan terbentuknya “GEREJA” di atas bumi, meskipun pada saat berbicara itu Gereja Tuhan itu belum terbentuk, karena Gereja itu lahir setelah Tuhan Yesus disalib, mati, dikuburkan, bangkit, naik ke sorga dan Roh Kudus turun pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2).
Antisipasi akan terbentuknya GEREJA di atas bumi itu terlihat dari ungkapan Tuhan Yesus sendiri yang ditujukan pada Js. Petrus bahwa : “ Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak menguasainya “ (Matius 16 : 18).
Jadi kata-kata Tuhan Yesus itu untuk menegaskan adanya Gereja di atas bumi dan para rasul sebagai fondasinya (Efesus 2 : 20).   


[1] Bishop Soterios. 1991. Catechism (Basic Teachings of the Orthodox Faith).Canada. The Greek Orthodox

   Diocese of Toronto.Hal. 74.




[2] ______________. 1998. Liturgy Suci Js. Yohanes Krisostomos. Surakarta. Kantor Pusat Gereja Orthodox

  Indonesia. Hal. 3.

.... [ bersambung ] ....

Minggu, 25 Agustus 2013

Kasus Ayat-ayat Yang Menyatakan Yesus Lebih Rendah dari Allah


Oleh : Romo Yohanes Bambang, MTS.

Dari pembahasan kita di atas telah kita buktikan bahwa sebagai Firman Allah yang berada satu di dalam diri Allah yang Esa dan memiliki dzat-hakekat ke-Ilahi-an yang satu dan yang sama di dalam diri Allah yang satu itu, maka dalam hakekat keilahianNya yang kekal Yesus Kristus adalah “setara dengan Allah” sebagaimana yang dikatakan :

”…Yesus Kristus, yang walaupun DALAM RUPA ALLAH, tidak menganggap ke-SETARA-an DENGAN ALLAH itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan MENGAMBIL RUPA SEORANG HAMBA…” (Fil 2:5-7)

 Ayat – ayat ini menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah “setara dengan Allah”, yaitu dalam keberadaanNya sebagai “rupa Allah” atau “Gambar Allah”, yaitu Firman Allah yang kekal. Namun dalam keberadaan “mengosongkan diriNya” ia telah “mengambil rupa seorang Hamba” berarti Ia adalah Hamba Allah. Sebagai “Hamba Allah” tentunya Ia tidak setara dengan Allah, lebih rendah dari Allah, dan adalah makhluk ciptaan Allah. Karena itulah dalam Kitab Suci di samping terdapat ayat-ayat yang menunjukkan ke-setara-an Yesus Kristus dengan Allah, dan berbeda satu di dalam diri Allah itu, terdapat juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Ia sama sekali berbeda dari Allah, lebih rendah dari Allah dan adalah makhluk Allah.
Para polemikus biasanya menggunakan ayat-ayat jenis kedua ini untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus hanya sekedar Rasul dan manusia biasa saja, dalam polemiknya menentang keyakinan Kriten Orthodox akan ke-Ilahian-a Yesus Kristus. Sedangkan kaum Saksi Yehuwa juga menggunakan ayat-ayat yang sama untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus meskipun telah ada sebelum dunia dijadikan namun Ia hanya sekedar makhluk pertama yang ciptakan Allah untuk membantu Allah Yehuwa dalam menciptakan makhluk-makhluk yang lain. Ayat-ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut :

“…Engkau (Bapa) satu-satuNya Allah yang benar, dan…Yesus Kristus yang telah Engkau utus…oleh sebab itu ya Bapa, permuliakan Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Ku-miliki dihadiratMu sebelum dunia ada” (Yoh 17: 3,5)

Baik pengikut Saksi Yehuwa maupun polemikus Islam, sering mengutip Yohanes 17:3 untuk membuktikan bahwa Yesus itu tak lebih dari seorang utusan(Rasul) dari Allah yang Esa. Bagi pengikut Saksi Yehuwa Ia hanyalah penjelmaan ciptaan pertama yang sudah ada sebelum dunia dijadikan. Bagi kaum muslimin, ini bukti bahwa Yesus adalah manusia yang diutus Allah, tak lebih dari itu. Tanpa menyangkal bahwa Yesus memang utusan Allah dan bahkan “Rasul..yang kita akui”(Ibr 3:1), kita harus melihat ayat ini dengan kaitannya dengan Yohanes 17:5 sebagai konteksnya. Dalam Yohanes 17:5, Yesus mengatakan bahwa Ia telah memiliki kemuliaan di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan. Pengakuan Yesus dalam doanya itu telah menggugurkan tafsiran bahwa Yesus hanya sekedar manusia biasa itu tak lebih dari itu. Sebab manusia biasa tak mungkin sudah ada sebelum dunia dijadikan. Namun itu belum menjawab sanggahan Saksi Yehuwah, sebab mereka juga percaya bahwa Yesus memang sudah ada sebelum dunia dijadikan, sebagai makhluk pertama yang membantu Allah dalam menciptakan. Faham ini tersanggah oleh Yesaya 44:24 yang mengatakan bahwa Allah hanya seorang diri dan tanpa pendamping ketika menciptakan dunia. Juga faham ini tersanggah oleh ajaran “Tauhid Rububiyah” yaitu bahwa Allah sendirian saja dalam memiliki kuasa dan menciptakan dunia.
Kalau demikian di mana Yesus sebelum dunia dijadikan itu dalam “hadirat” Allah itu ?. Yohanes 8:42, menegaskan “…AKU KELUAR…dari Allah…Yesus menyatakan diri “keluar dari Allah”, sebelumnya Ia berada dalam Diri Allah (“hadirat”) Allah, itu bukan wujud jasadNya yang keluar dari rahim Maryam itu, namun dalam keberadaan “ruh/ghoib” sebelum menjadi manusia. Jika Ia berada di dalam diri Allah, berarti Ia satu dalam dzat-hakekat Allah. Sebagai apa Yesus dalam keberadaan non-manusiawi itu berada dalam diri Allah ?. Sebagai hypostasis yang melaluiNya Allah menciptakan dunia ini (Ibrani 1:2-3). Padahal Allah menciptakan dunia ini melalui “Firman” (Yohanes 1:1-3, Kejadian 1, Mazmur 33:6), berarti Ia berada dalam diri Allah sebagai “Firman Allah” yang melekat dan berada satu di dalam dzat hakekat Allah yang satu itu. Dalam arti ini “Firman” memang menjadi “asal-usul dari segenap ciptaan Allah” atau sebagai “awal mula dari ciptaan Allah” atau sebagai “permulaan (mula-asalnya) dari ciptaan Allah” (Wahyu 3:12). Jadi Yesus bukan “permulaan dari ciptaan Allah” sebagai “ciptaan Allah yang pertama sekali” seperti yang ditafsirkan kaum Saksi Yehuwah, namun sebagai “permulaan asal dari segenap ciptaan Allah”, sumber asalnya dari mana ciptaan Allah itu dijadikan oleh Allah. Dengan demikian ke-Esa-an Allah tak terlanggar, seperti yang dilakukan oleh Saksi-saksi Yehuwah, dan ke-Ilahi-an Yesus dan kesatuanNya dalam dzat hakekat Allah sebagai “Kalimatullah” tidak disangkal, seperti yang dilakukan baik oleh polemikus Islam maupun oleh saksi-saksi Yehuwa. Dan karena “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:1), maka Ia telah hadir ke dunia, dan turun dari sorga (Yoh 6:38), dan turunNya dari sorga serta menjelma menjadi manusia ini adalah kehendak Allah, berarti Yesus memang diutus Allah untuk turun dari sorga ke bumi sebagai “Firman yang menjadi manusia”. Jadi memang Yesus adalah “Utusan Allah”, atau “Firman yang diutus kebumi oleh Allah”. Dengan demikian tidak ada kontrakdisi antara ke-Ilahi-an Yesus sebagai Firman yang menjelma, dengan keberadaanNya sebagai “utusan” itu. Maka utusan disini bukan hanya sekedar Rasul yang diangkat Allah untuk menyebarkan Firman Allah saja, namun Ia adalah memang Firman itu yang diutus turun ke bumi, tanpa meninggalkan kesatuanNya dengan Allah :

“Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapapun (berarti termasuk yesus Kristus sendiri)…Aku dan bapa adalah satu….Engkau, sekalipun seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah” (Yohanes 10:30-31)

“…Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yohanes 14:28)

Kedua ayat diatas menegaskan bahwa “Bapa” (Allah), lebih besar dari Yesus. Dengan demikian Yesus tidak sama dengan Allah, maka Yesus adalah sekedar makhluk saja: entahlah itu makhluk pertama yang membantu Allah mencipta dunia seperti ajaran saksi Yehuwah, ataukah hanya sekedar manusia biasa yang diangkat menjadi rasul seperti yang ditekankan oleh Islam. Pernyataan Yesus ini tidak boleh dikutip secarah terpisah dari konteksnya. Dalam Yohanes 10:29 ketika Yesus menyatahkan bahwa “Bapa lebih besar dari siapapun” termasuk dirNya itu, : ditegaskan lagi bahwa “Aku dan Bapa adala satu”, yang reaksi orang Yahudi langsung jelas mengerti bahwa Yesus “menyamakan diri dengan Allah” . Jikalau dalam konteksnya Yesus jelas dimengerti sebagai menyamakan diri dengan Allah, karena pernyataanNya akan satuNya dengan Allah itu, mengapa Ia mengatakan bahwa Bapa lebih besar dari diriNya ?

Jawabannya ada dua :

1. Dari titik pandang kekal, dimana hypostasis Bapa memang menjadi sumber dari asal FirmanNya sendiri. Artinya “Firman Allah” itu dikeluarkan /diperanakkan dari Allah, dan Firman itu ada karena Allah itu ada. Dalam arti inilah Allah dapat dikatakan sebagai kepala Kristus, karena Allah adalah sumber dan asal-usul dari keberadaan FirmanNya sendiri : “…Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah” (I Kor 11:3). Sebagai hypostasis yang dari padaNya Firman itu berasal sejak kekal abadi, dengan demikian Allah adalah Kepala dari Firman ini, maka dalam makna ini saja dapat dikatakan Bapa lebih besar dari Anak. Namun dalam dzat-hakekat keIlahian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil antara Allah dan FirmanNya, antara Bapa dan Anak…sebab Firman Allah berada dalam dzat hakekat Allah yang satu dan yang sama, -serta tak ada duanya-, yang berada didalam diri allah yang Esa itu. Maka Bapa tidak lebih Allah dari pada Firman. “Kepenuhan Allah” yang ada pada Bapa itu sepenuhnya bersemayam dalam Anak (Kol 1:19-2:9), karena Anak berada satu dalam diri Bapa. Jadi tidak ada “Allah kedua”, tidak pula ada “Allah Yehuwah” dan “allah” Ciptaan Pertama, atau “seorang allah” sebagai ciptaan yang dijadikan lebih dahulu, seperti ajaran saksi Yehuwah. Ajaran saksi Yehuwah ini adalah ajaran berhala, dan politheisme (musyrik) pada dasarnya.


2. Dari titik pandang Inkarnasi (“Firman itu menjadi manusia”). Sebagai yang telah mengambil “Rupa Hamba”, Yesus jelas lebih rendah dari Allah, jadi Allah memang lebih besar dari Yesus, dari titik pandang karya Inkarnasi ini. Dengan demikian dalam arti ini Allah memang AllahNya Yesus Kristus; “Kata Yesus kepadanya:”..Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu. AllahKu dan Allahmu” (Yohanes 20:17, Wahyu 3:12). Dan dalam arti sebagai Hamba Allah ini Ia dapat mengatakan : “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak ada seorang pun tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja” (Markus 13:32). Meskipun ini tak berarti bahwa dalam ke-Ilahi-an Nya sebagai Firman Allah yang kekal Ia tak tahu kapan datangnya kiamat. Sebab jikalau Ia mengetahui tanda-tanda akan datangNya kiamat, dan tanda – tanda akan kedatanganNya yang kedua kali, serta apa yang akan terjadi menjelang kiamat dan kedatanganNya yang begitu rinci dan mendalam itu, apakah sulitnya Ia untuk mengetahui kapan datangnya Hari itu (Matius 24). Perkataan diatas hanya diucapkan untuk memuliakan Sang Bapa, karena untuk tujuan itu Ia datang kedalam dunia. Dan karena Inkarnasi Kristus akan bersifat kekal, maka dari sini kodrat kemanusiaanNya ini maka di Hari Kiamat nanti :”…Anak akan menakhlukkan diriNya sendiri dibawah Dia, yang telah menakhlukkan sesuatu dibawahNya, supaya Allah menjadi semua didalam semua” (I Kor 15:29). Dan semua ayat manapun dalam seluruh Alkitab yang menunjukkan seolah-olah Yesus itu berbeda dan lebih rendah dari Allah, harus dilihat dari dua titik pandang ini. Entahlah dalam titik pandang kekal, sebagai “hypostasis Firman yang diperanakkan oleh Bapa” dimana Allah itu menjadi sumber dan asal-usulNya. Ataukah dari titik pandang Inkarnasi, dimana sebagai yang telah mengambil “Rupa Hamba” Ia memang makhluk Allah dan tidak sama serta lebih rendah dari Allah. Namun dalam keberadaanNya sebagai “Firman Allah” (Yoh 1:1), “Gambar Allah” (Kol 1:15, Ibr 1:3). “Rupa Allah” (Fil 2:5-6), “Anak Allah Yang Tunggal” (Yoh 1:18), Ia itu “setara dengan Allah” artinya melekat satu di dalam diri Allah, yang memiliki dzat-hakekat keilahian yang identik satu dan sama di dalam diri allah itu. Jadi semua mukjizat-mukjizat Yesus itu bukan “penyebab” Ia dianggap dan diper-Ilah sebagai Allah oleh orang Kristen Orthodox, namun justru sebaliknya, mukjizat-mukjizat itu bukti ke-Ilahi-anNya. Para polemikus sering mempermasalahkan bahwa jika Adam lahir tanpa Bapak-Ibu padahal Yesus lahir tanpa bapa saja mengapa Adam tidak dianggap Tuhan ? Jika Musa berbuat mukjizat dan Yesus juga berbuat mukjizat mengapa Musa tidak dianggap Tuhan, Jika Elia naik ke sorga dan Yesus naik ke sorga mengapa Elia tidak dianggap Tuhan ? dan pertanyaan lain yang senada dengan itu. 


Jawabannya :
1. Jika masalah mukjizat yang dijadikan acuan: tak satupun dari Nabi-Nabi yang disebutkan tadi dapat melakukan mukjizat seperti Yesus: Adam lahir tanpa bapak ibu, namun tak berbuat mukjizat, Musa dan Elia berbuat mukjizat , namun mereka tidak bangkit dari antara orang mati, dan tidak dilahirkan tanpa bapak-ibu, masing-masing ini hanya melakukan mukjizat-mukjizat sebagaian saja, sedangkan tak satupun yang dapat mengalahkan mukjizat Yesus. Lahirnya secara mukjizat, pelayanannya selurunya bersifat mukjizat, dan naik ke sorgaNya diberi segalah kuasa disorga dan diatas bumi. Tak seorang Nabipun yang memiliki syarat-syarat mukjijat seperti ini. Ini disebabkan para Nabi itu memang bukan Tuhan karena umat Kristen Orthodox mengakui Yesus sebagai Tuhan bukan disebabkan oleh “mukjizat-mukjizat” itu. Mukjizat-mukjizat Yesus bukti keberadaan kekalNya sebagai “Firman Allah” jadi bukan –“penyebab”- . Ia diangkat menjadi Tuhan.

2. Dari pengakuan-pengakuan Yesus sendiri. Ia mengakui sudah ada sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5,24, 8: 56-58), Ia menyatakan sudah berada di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5), Ia menyatakan “keluar dari Allah” (Yohanes 8:42), Ia menyatakan diri telah turun dari sorga (Yohanes 6:38), Ia menyatakan diri bukan berasal dari dunia ini (Yohanes 17:15) dan masih banyak lagi. Tak seorang Nabipun yang mengaku demikian ini. Dan pengakuan – pengakuan tadi dibuktikan oleh mukjizat-mukjizat tadi, yang berpuncak pada mukjizat kebangkitanNya dari antara orang mati. Tak ada seorang pun bangkit dari maut dan hidup terus, apalagi bangkit dari kekuatan kuasaNya sendiri seperti yang dilakukan Yesus (Yohanes 10:17-18). Peristiwa-peristiwa orang yang dihidupkan dari kematian baik oleh Nabi Elia, Elisa, maupun oleh Yesus Kristus itu hanya bersifat sementara, dan akhirnya orang itu mati lagi, jadi tak dapat disamakan dengan kebangkitan Yesus Kristus ke sorga. Karena mereka tidak bangkit dari kematian, namun hanya sekedar diangkat ke sorga, untuk natinya turun lagi kebumi agar mengalami kematian di tangan Anti-Kristus (Maleakhi 4:5-6, Wahyu 11:3-12), lalu dibangkitkan oleh kuasa Allah, naik ke sorga. Jadi prosesnya sama dengan manusia lain yang akan dibangkitkan diakhir jaman nanti, namun berbeda dengan kenaikan Yesus ke sorga yang diangkat dalam kemuliaan, diberikan segala kuasa baik di sorga maupun di bumi, serta yang duduk disebelah kanan Allah. Semua “kelemahan-kelemahan” Yesus: sebagai bayi kecil yang lemah, merasa lapar, merasa haus, bersedih, takut, berteriak “Eli, Eli Lama Sabakhtani” ketika disalibkan, mengalami kematian, dan segenap cirri-ciri kemanusiaan yang lain, adalah bukti bahwa Yesus benar-benar manusia sejati. Jika ia tidak memiliki itu semua Ia justru bukan manusia, dan ini bertentangan dengan ajaran Alkitab bahwa Firman itu “TELAH MENJADI MANUSIA” (Yohanes), dan bahwa: “…DALAM SEGALAH HAL IA HARUS DISAMAKAN DENGAN SAUDARA-SAUDARANYA (Manusia)..” (Ibr 2:17). Data-data “kelemahan-kelemahan” Yesus secara manusia itu adalah bukti kebenaran Alkitab yang menyatakan bahwa dalam segalah hal Yesus sama dengan manusia. Dan sering data-data kemanusiaan ini yang digunakan oleh para polemikus Islam untuk menyangkal ke-Ilahi-an Yesus. Kita juga akan menyangkal ke-Ilahi-an Yesus dari data kemanusiaan itu, karena Iman kita mengatakan yang manusia dalam Yesus itu tak berbaur dengan yang ilahi. Yang Ilahi adalah inti pribadi terdalam dari manusia Yesus yang adalah “Firman Allah” (yang meskipun sedang nuzul sebagai manusia, pada saat yang bersamaan tetap hadir satu dalam dzat hakekat Allah), dan itulah yang kita sembah, bukan makhluk manusiaNya. Kita tak menyembah makhluk namun menyembah Allah dalam FirmanNya. Dalam jubah “daging kemanusiaanNya” itu pandangan Iman orang Kristen Orthodox tidak hanya berhenti disitu saja, namun dapat menembus jauh kedalam, yaitu melihat Firman yang menjadi inti pribadi Yesus sebagai Firman Allah. KemanusiaanNya adalah jubah ke-ilahi-anNya dalam nuzulnya atau turunNya serta penampakanNya kepada manusia. Kita tidak menyembah jubahNya, namun inti pribadi yang ada di dalam jubah itu, yaitu “Firman Allah”, namun karena jubah itu tak dapat dilepaskan dari Sang Pemakai Jubah, maka penyembahan kita harus melalui dan melewati jubah itu untuk sampai kepada Sang Pemakai Jubah itu, yaitu Firman Allah sendiri, karena Ia berada dalam jubah itu, dan tak terpisah dari Jubah itu, karena jubah itu berwujud suatu kemanusiaan yang hidup dan berakal-pikiran secara sempurna. Itulah sebabnya mukjizat-mukjizat Yesus memang tak dapat disamakan dengan mukjizat siapapun dari antara para Nabi, maka jelas tak mungkin seorang Kristen Orthodox dapat mengakui siapapun diantara para Nabi sebagai Tuhan dikarenakan mukjizat-mukjizat mereka, karena mereka memang bukan Allah. Sedangkan Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan (Yohanes 13:13), karena Ia memang adalah Firman Allah yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1).