Tampilkan postingan dengan label Bapa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bapa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Ulasan Theology "Doa Bapa Kami" (1)


Oleh : Romo Yohanes Bambang MTS

PRAKATA

Doa Bapa Kami atau Doa Tuhan (The Lord’s Prayer) yang pada Gereja Barat dikenal sebagai doa Pater Noster diajarkan sendiri oleh Tuhan Yesus pada para muridnya. Doa ini nampaknya kurang diminati oleh banyak orang, bahkan pada beberapa denominasi gereja dalam tata ibadahnya tidak mencantumkan doa Bapa Kami ini.
Ini semua dapat dimengerti, dan itu terjadi karena ketidaktahuan mereka akan makna dan arti doa Bapa Kami.
Dalam Gereja mula-mula atau lebih dikenal dengan sebutan Gereja Orthodox Timur/ Gereja Timur, doa Bapa Kami atau doa Pater Imon adalah bagian dalam liturgi Gereja.
Dan bahkan dalam ibadah-ibadah (bukan liturgi ) Gerejapun, doa ini juga diikut sertakan.
Hal ini dikarenakan Gereja mengerti secara jelas makna dan arti doa ini.
Dan melalui buku kecil ini, penulis ingin menjelaskan secara teologis tentang doa ini. Sehinggga pembaca dapat mengerti secara jelas dan akhirnya menyadari bahwa betapa pentingnya doa Bapa Kami ini. Karena dalam doa ini antisipasi akan terbentuknya Gereja dapat dilihat, serta apa yang akan terjadi dalam Gerejapun dapat terdeteksi.
Itu sebabnya harapan penulis, semoga melalui buku ini pembaca dapat mengagumi Allah atas karyanya yang begitu besar di jagad ini.

Latar belakang Tuhan Yesus mengajar doa pada para muridnya diawali dengan dilihatnya cara doa orang-orang Farisi yang terkesan hanya mencari pujian dan arogan (Matius 6:5).
Padahal hakekat doa harus disertai sikap rendah hati , tulus dan bermotif benar dihadapan Allah. Itu sebabnya Yesus mengatakan, “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada ditempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:6).

Dari sini terlihat bahwa berdoa tak perlu harus dilihat oleh orang, agar mendapat pujian dan nampak saleh, namun hal yang terpenting adalah bahwa berdoa itu perlu terlandasi adanya sikap yang murni serta memfokuskan hati dan batin pada Allah dengan tidak membiarkan pikiran melayang-layang kesana- kesini. Tetap menyatukan hati dan pikiran untuk menuju pada penyatuan dengan yang Ilahi. Dengan demikian jelas bahwa doa itu perlu adanya bahasa keheningan atau “silence languange” dan tak perlu berteriak-teriak seakan-akan Allah tak mendengar jeritan umatnya, karena Js. Matius mengungkapkan bahwa ,“Bapamu yang melihat yang tersembunyi” artinya Allah mengetahui jeritan doa batin terdalam yang diungkapkan oleh umatNya.

Dan lagi Js. Matius juga mengatakan, “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu” yang berarti bahwa dalam berdoa “bukan untaian kata-kata yang indah “ yang menjadikan doa itu didengar oleh Allah, namun keheningan, ketulusan batin yang disertai oleh penyerahan diri mutlak pada Sang Khaliklah yang menjadikan doa itu layak dihadapan Allah.

Dengan demikian jelas bahwa ada spiritualitas yang berbeda antara cara orang Farisi berdoa dan pengikut Kristus.


I.“ BAPA KAMI YANG DISURGA ...”

Sebutan "Bapa"
Doa yang diajarkan Kristus pada para muridNya diawali dengan kata “Bapa”. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu yang lebih mulia, agung dan luarbiasa sebelum sesuatu yang lainnya.
Sebutan “Bapa” sebagai awal pembukaan doa Bapa Kami ini mengandung makna yang luar biasa, karena dengan sebutan itu manusia diajak untuk melihat, sekaligus untuk menyadarkan bahwa betapa pentingnya mengetahui “Sangkan Paraning Dumadi” atau “’Asal-usul dan tujuan “ makhluk hidup.

Dalam kitab Perjanjian Lama dijelaskan begitu gamblang bahwa makna sebutan “Bapa” itu adalah sebagai sumber atau asal-usul munculnya segala sesuatu. Ini jelas terlihat dari ungkapan Nabi Yesaya dalam kitabnya bahwa : “Bukankah Engkau Bapa kami?...ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami, namaMu ialah penebus kami ... “ (Yesaya 63:16).

Sebutan Bapa yang diperuntukkan bagi Allah tidaklah dikaitkan dengan masalah biologis, namun itu lebih menunjuk pada karyaNya yaitu sebagai “Penebus”. Bukan hanya terbatas sebagai “Penebus”, namun sebutan “Bapa” itu mengarah lebih dalam lagi yaitu sebagai “Sang Sangkan” atau “Asal-usul” terjadinya segala sesuatu. Hal ini ditandaskan oleh Nabi Yesaya bahwa : “Tetapi sekarang ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami ...Engkaulah yang membentuk kami...” (Yesaya 64:5).

Hal senada juga diungkapkan oleh Raja Daud dalam kitab Zaburnya bahwa : “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun- temurun sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah” (Mazmur 90:1 –2).

Disini Allah diposisikan seakan-akan sebagai seorang ibu yang “melahirkan” dan “memperanakkan”, namun hal itu sekali lagi tak dapat dijadikan sebagai suatu dasar bahwa Allah berjenis kelamin perempuan (band. Yohanes 4:24), karena kata “dilahirkan” dan “diperanakkan” dalam ayat ini, adalah mempunyai pengertian bahwa Allahlah yang memunculkan dan sumber adanya segala sesuatu atau dengan istilah yang lebih dikenal bahwa “Allahlah sebagai pencipta segala sesuatu”.

Sebagaimana telah diakui bersama bahwa Allah yang Maha Mulia itu, bukanlah Allah yang bersifat plin-plan atau mudah menghapuskan serta melupakan apa yang pernah dinyatakan. Allah itu setia terhadap apa yang telah dinyatakan, itu sebabnya pernyataan atau ungkapan dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidaklah bertentangan dalam hal menyatakan atau mengungkapkan keberadaan “Bapa”, namun justru hal itu lebih menegaskan adanya benang merah yang tak terputuskan yang menunjukkan bahwa pernyataan itu dinyatakan oleh Pribadi yang sama – Allah.

Dalam Perjanjian Baru, Js. Paulus mengatakan dalam suratnya kepada Gereja di Korintus bahwa : “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dialah kita hidup ... “ (I Korintus 8:6).
Disisi lain Tuhan Yesus menegaskan bahwa : “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak ... “ (Matius 11:25).

Arti penyebutan “Bapa” disini seperti telah dijelaskan diatas tidaklah menunjuk pada “jenis kelamin”, karena memang Allah itu tak berjenis kelamin, Allah itu bukan laki-laki, Allah itu bukan perempuan, Allah itu bukan tua, Allah itu bukan muda, Allah itu bukan besar dan kecil, sebab memang Allah itu bersifat ghoib dan Roh (Yohanes 4:24), namun itu lebih bersifat yang menunjuk pada aktifitas Allah dan segi hubungan yang ada di dalam diri Allah itu sendiri.

Terkait dengan sifat aktifitas Allah, Js. Maximus Sang Pengaku Iman mengatakan : “Dengan adil Tuhan mengajar (mereka yang berdoa) untuk memulai secara tepat dan teologis. Ia juga memperkenalkan kita pada jalan misteri sebab yang telah menciptakan segenap makhluk. Ia yang sesungguhnya penyebab dari adanya segenap makhluk.”[1]
Sesuai dengan pernyataan Alkitab, Sang Janasuci tersebut selanjutnya dengan tegas menyatakan bahwa : “Allah itu adalah sebagai penyebab adanya segenap makhluk”, artinya ia tidak menyangkal bahwa Allah itu adalah “Sang Sangkan” atau “Pencipta” manusia dan jagad.

Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa sebutan “Bapa” itu tidak hanya terbatas pada aktifitas Allah, namun juga hubungan Allah pada DiriNya sendiri. Ini jelas terlihat dari pernyataan Injil Yohanes bahwa : “ ... jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Bapa ...” (Yohanes 8:42).
Artinya “Bapa” disini berdiri sebagai “pokok” atau “sumber” akan “dikeluarkannya” atau “dilahirkannya” Sang Putera dari DiriNya sendiri, karena “Firman” atau “Kalimatullah” itu keluar dari Bapa, maka tak dapat disangkal lagi bahwa “Firman” itu satu “dzat hakekat” atau “essensi” dalam ke-Allahan, demikian juga dengan “Roh Kudus” (Yohanes 15:26). Dengan demikian dari kekal sampai kekal di dalam Bapa tinggallah Sang Firman dan juga Sang Roh Kudus. Jadi jelaslah letak keesaan atau ketauhidan Allah bukan terletak pada essensiNya, namun terletak pada Diri Sang Bapa (Yohanes 10:30;1:1).

Sebutan "Bapa Kami"
Kalau sebutan “Bapa” itu kait-mengkait dengan posisiNya, sebagai penebus, pencipta, asal-usul adanya segalah sesuatu dan pokok atau sumber dari mana datangnya Sang Firman dan Sang Roh Kudus, kemudian apa arti dan makna sebutan “Bapa Kami” yang tertera dalam doa Bapa Kami?.

Arti “Bapa Kami” itu menunjuk pada artian bahwa Allah itu bukan hanya “Bapanya Sang Firman” (sumber diam dan keluarnya Sang Firman), namun juga “Bapa” setiap orang percaya didalam Kristus walaupun harus diakui itu bukan secara “essensi” namun melalui adopsi.
Orang percaya menyebut Allah sebagai “Bapanya”, bukan karena mereka itu diam dan keluar serta satu essensi sebagaimana Sang Firman dan Roh kudus dalam Bapa (Yohanes 8:42;15:26), namun mereka menyebut Allah sebagai “Bapa” karena percaya dan manunggal dengan Kristus melalui sakramen baptisan dalam GerejaNYa yang kudus. Meskipun harus diakui disini bahwa saat Yesus mengajar doa pada para muridNya ini GEREJA belum terbentuk, namun antisipasi dan rencana didirikannya Gereja Kudus telah ada dalam benak Kristus.

Js. Paulus dalam suratnya yang ditujukan pada jemaat di Roma mengatakan : “ ... Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demukian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru ... “ (Roma 6:3 – 4).

Tidak nampak di sini bahwa baptisan itu adalah “lambang” disatukannya orang percaya pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Yang jelas dilihat disini bahwa “baptisan” itu adalah merupakan sarana dipersatukannya kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus melalui kuasa Roh KudusNya, sehingga orang percaya dapat mengenakan Kristus dalam hidupnya (Galatia 3:27).

Padahal menurut pengertian Gereja dan para Bapa Gereja, sekalipun Sang Sabda telah menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:14), namun Kristus secara essensi sebagai Sabda itu tak pernah terpisah dan tetap tinggal di dalam Sang Bapa bersama-sama Sang Roh Kudus dari kekal sampai kekal. Dengan demikian orang percaya menyebut Allah sebagai “Bapa” atas dasar penyatuannya dengan Kristus melalui sakramen baptisan di dalam GEREJA (Galatia 3:26-29).

Karena sebutan “Bapa” itu tidak menunjuk pada jenis kelamin, meskipun timbulnya sebutan bapa-bapa secara jasmani itu muncul sebagai refleksi akan sebutan “Bapa” yang dikenakan pada “Allah”, maka dengan demikian tempat tinggal Allah itu bukan di tempat hina, namun tempat Maha Kudus yaitu “SORGA”.
Setelah menyoroti secara teologis akan makna ungkapan “Bapa kami yang di sorga” dalam pembukaan doa yang diajarkan Tuhan Yesus pada para muridNya, maka dapat dipastikan mengapa dalam mengajarkan doa itu diawali dengan sebutan “Bapa kami yang di sorga”. Ini tak lain dan bukan bahwa Tuhan Yesus ingin menunjukkan adanya suatu kedekatan hubungan antara orang percaya dengan Allah. Dan hubungan dekat ini terjadi karena percaya dan menyatu dengan Kristus melalui sakramen dalam Gereja.
Dengan menyebut Allah sebagai “Bapa” ini, merupakan suatu anugerah yang luar biasa bagi orang percaya, sehingga melaluiNya perhatian, perlindungan, kasih dan hidup dapat dirasakan segenap orang percaya yang sungguh dalam Kristus.
Salah satu perhatian yang Allah berikan dalam diri orang percaya adalah dengan tidak membiarkan orang percaya sendirian, artinya dengan menyebut Allah sebagai “Bapa” menunjuk pada realita bahwa “orang percaya” itu bukanlah anak-anak yatim. Kehidupan orang percaya selalu mendapat kasihNya dan langkah-langkahnya mendapat petunjuk, ilham, inspirasi dan terang Ilahi, sehingga hidup orang percaya dapat dan mampu “mengejawantahkan” atau “mengekspresikan” hidup Allah dalam hidup ini.

Dengan demikian jelas, Doa Tuhan diawali dengan kalimat “Bapa kami yang di sorga”, disamping untuk menjelaskan bahwa Allah itu sebagai penebus, asal-usul segala sesuatu, hubungan Allah pada DiriNYa sendiri dan antisipasi adanya Gereja, juga menjelaskan kedekatan hubungan orang percaya dan Allah melalui iman dan menyatu dengan Kristus melalui kehidupan sakramental Gereja.

[1]Archim. George. 1997. The Lord’s Prayer. Mt. Athos. Holy Monastery of St.Gregorios. Hal. 13.

........ [  bersambung bagian 2 ] .....

Minggu, 25 Agustus 2013

Kasus Ayat-ayat Yang Menyatakan Yesus Lebih Rendah dari Allah


Oleh : Romo Yohanes Bambang, MTS.

Dari pembahasan kita di atas telah kita buktikan bahwa sebagai Firman Allah yang berada satu di dalam diri Allah yang Esa dan memiliki dzat-hakekat ke-Ilahi-an yang satu dan yang sama di dalam diri Allah yang satu itu, maka dalam hakekat keilahianNya yang kekal Yesus Kristus adalah “setara dengan Allah” sebagaimana yang dikatakan :

”…Yesus Kristus, yang walaupun DALAM RUPA ALLAH, tidak menganggap ke-SETARA-an DENGAN ALLAH itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan MENGAMBIL RUPA SEORANG HAMBA…” (Fil 2:5-7)

 Ayat – ayat ini menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah “setara dengan Allah”, yaitu dalam keberadaanNya sebagai “rupa Allah” atau “Gambar Allah”, yaitu Firman Allah yang kekal. Namun dalam keberadaan “mengosongkan diriNya” ia telah “mengambil rupa seorang Hamba” berarti Ia adalah Hamba Allah. Sebagai “Hamba Allah” tentunya Ia tidak setara dengan Allah, lebih rendah dari Allah, dan adalah makhluk ciptaan Allah. Karena itulah dalam Kitab Suci di samping terdapat ayat-ayat yang menunjukkan ke-setara-an Yesus Kristus dengan Allah, dan berbeda satu di dalam diri Allah itu, terdapat juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Ia sama sekali berbeda dari Allah, lebih rendah dari Allah dan adalah makhluk Allah.
Para polemikus biasanya menggunakan ayat-ayat jenis kedua ini untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus hanya sekedar Rasul dan manusia biasa saja, dalam polemiknya menentang keyakinan Kriten Orthodox akan ke-Ilahian-a Yesus Kristus. Sedangkan kaum Saksi Yehuwa juga menggunakan ayat-ayat yang sama untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus meskipun telah ada sebelum dunia dijadikan namun Ia hanya sekedar makhluk pertama yang ciptakan Allah untuk membantu Allah Yehuwa dalam menciptakan makhluk-makhluk yang lain. Ayat-ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut :

“…Engkau (Bapa) satu-satuNya Allah yang benar, dan…Yesus Kristus yang telah Engkau utus…oleh sebab itu ya Bapa, permuliakan Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Ku-miliki dihadiratMu sebelum dunia ada” (Yoh 17: 3,5)

Baik pengikut Saksi Yehuwa maupun polemikus Islam, sering mengutip Yohanes 17:3 untuk membuktikan bahwa Yesus itu tak lebih dari seorang utusan(Rasul) dari Allah yang Esa. Bagi pengikut Saksi Yehuwa Ia hanyalah penjelmaan ciptaan pertama yang sudah ada sebelum dunia dijadikan. Bagi kaum muslimin, ini bukti bahwa Yesus adalah manusia yang diutus Allah, tak lebih dari itu. Tanpa menyangkal bahwa Yesus memang utusan Allah dan bahkan “Rasul..yang kita akui”(Ibr 3:1), kita harus melihat ayat ini dengan kaitannya dengan Yohanes 17:5 sebagai konteksnya. Dalam Yohanes 17:5, Yesus mengatakan bahwa Ia telah memiliki kemuliaan di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan. Pengakuan Yesus dalam doanya itu telah menggugurkan tafsiran bahwa Yesus hanya sekedar manusia biasa itu tak lebih dari itu. Sebab manusia biasa tak mungkin sudah ada sebelum dunia dijadikan. Namun itu belum menjawab sanggahan Saksi Yehuwah, sebab mereka juga percaya bahwa Yesus memang sudah ada sebelum dunia dijadikan, sebagai makhluk pertama yang membantu Allah dalam menciptakan. Faham ini tersanggah oleh Yesaya 44:24 yang mengatakan bahwa Allah hanya seorang diri dan tanpa pendamping ketika menciptakan dunia. Juga faham ini tersanggah oleh ajaran “Tauhid Rububiyah” yaitu bahwa Allah sendirian saja dalam memiliki kuasa dan menciptakan dunia.
Kalau demikian di mana Yesus sebelum dunia dijadikan itu dalam “hadirat” Allah itu ?. Yohanes 8:42, menegaskan “…AKU KELUAR…dari Allah…Yesus menyatakan diri “keluar dari Allah”, sebelumnya Ia berada dalam Diri Allah (“hadirat”) Allah, itu bukan wujud jasadNya yang keluar dari rahim Maryam itu, namun dalam keberadaan “ruh/ghoib” sebelum menjadi manusia. Jika Ia berada di dalam diri Allah, berarti Ia satu dalam dzat-hakekat Allah. Sebagai apa Yesus dalam keberadaan non-manusiawi itu berada dalam diri Allah ?. Sebagai hypostasis yang melaluiNya Allah menciptakan dunia ini (Ibrani 1:2-3). Padahal Allah menciptakan dunia ini melalui “Firman” (Yohanes 1:1-3, Kejadian 1, Mazmur 33:6), berarti Ia berada dalam diri Allah sebagai “Firman Allah” yang melekat dan berada satu di dalam dzat hakekat Allah yang satu itu. Dalam arti ini “Firman” memang menjadi “asal-usul dari segenap ciptaan Allah” atau sebagai “awal mula dari ciptaan Allah” atau sebagai “permulaan (mula-asalnya) dari ciptaan Allah” (Wahyu 3:12). Jadi Yesus bukan “permulaan dari ciptaan Allah” sebagai “ciptaan Allah yang pertama sekali” seperti yang ditafsirkan kaum Saksi Yehuwah, namun sebagai “permulaan asal dari segenap ciptaan Allah”, sumber asalnya dari mana ciptaan Allah itu dijadikan oleh Allah. Dengan demikian ke-Esa-an Allah tak terlanggar, seperti yang dilakukan oleh Saksi-saksi Yehuwah, dan ke-Ilahi-an Yesus dan kesatuanNya dalam dzat hakekat Allah sebagai “Kalimatullah” tidak disangkal, seperti yang dilakukan baik oleh polemikus Islam maupun oleh saksi-saksi Yehuwa. Dan karena “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh 1:1), maka Ia telah hadir ke dunia, dan turun dari sorga (Yoh 6:38), dan turunNya dari sorga serta menjelma menjadi manusia ini adalah kehendak Allah, berarti Yesus memang diutus Allah untuk turun dari sorga ke bumi sebagai “Firman yang menjadi manusia”. Jadi memang Yesus adalah “Utusan Allah”, atau “Firman yang diutus kebumi oleh Allah”. Dengan demikian tidak ada kontrakdisi antara ke-Ilahi-an Yesus sebagai Firman yang menjelma, dengan keberadaanNya sebagai “utusan” itu. Maka utusan disini bukan hanya sekedar Rasul yang diangkat Allah untuk menyebarkan Firman Allah saja, namun Ia adalah memang Firman itu yang diutus turun ke bumi, tanpa meninggalkan kesatuanNya dengan Allah :

“Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapapun (berarti termasuk yesus Kristus sendiri)…Aku dan bapa adalah satu….Engkau, sekalipun seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah” (Yohanes 10:30-31)

“…Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yohanes 14:28)

Kedua ayat diatas menegaskan bahwa “Bapa” (Allah), lebih besar dari Yesus. Dengan demikian Yesus tidak sama dengan Allah, maka Yesus adalah sekedar makhluk saja: entahlah itu makhluk pertama yang membantu Allah mencipta dunia seperti ajaran saksi Yehuwah, ataukah hanya sekedar manusia biasa yang diangkat menjadi rasul seperti yang ditekankan oleh Islam. Pernyataan Yesus ini tidak boleh dikutip secarah terpisah dari konteksnya. Dalam Yohanes 10:29 ketika Yesus menyatahkan bahwa “Bapa lebih besar dari siapapun” termasuk dirNya itu, : ditegaskan lagi bahwa “Aku dan Bapa adala satu”, yang reaksi orang Yahudi langsung jelas mengerti bahwa Yesus “menyamakan diri dengan Allah” . Jikalau dalam konteksnya Yesus jelas dimengerti sebagai menyamakan diri dengan Allah, karena pernyataanNya akan satuNya dengan Allah itu, mengapa Ia mengatakan bahwa Bapa lebih besar dari diriNya ?

Jawabannya ada dua :

1. Dari titik pandang kekal, dimana hypostasis Bapa memang menjadi sumber dari asal FirmanNya sendiri. Artinya “Firman Allah” itu dikeluarkan /diperanakkan dari Allah, dan Firman itu ada karena Allah itu ada. Dalam arti inilah Allah dapat dikatakan sebagai kepala Kristus, karena Allah adalah sumber dan asal-usul dari keberadaan FirmanNya sendiri : “…Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah” (I Kor 11:3). Sebagai hypostasis yang dari padaNya Firman itu berasal sejak kekal abadi, dengan demikian Allah adalah Kepala dari Firman ini, maka dalam makna ini saja dapat dikatakan Bapa lebih besar dari Anak. Namun dalam dzat-hakekat keIlahian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil antara Allah dan FirmanNya, antara Bapa dan Anak…sebab Firman Allah berada dalam dzat hakekat Allah yang satu dan yang sama, -serta tak ada duanya-, yang berada didalam diri allah yang Esa itu. Maka Bapa tidak lebih Allah dari pada Firman. “Kepenuhan Allah” yang ada pada Bapa itu sepenuhnya bersemayam dalam Anak (Kol 1:19-2:9), karena Anak berada satu dalam diri Bapa. Jadi tidak ada “Allah kedua”, tidak pula ada “Allah Yehuwah” dan “allah” Ciptaan Pertama, atau “seorang allah” sebagai ciptaan yang dijadikan lebih dahulu, seperti ajaran saksi Yehuwah. Ajaran saksi Yehuwah ini adalah ajaran berhala, dan politheisme (musyrik) pada dasarnya.


2. Dari titik pandang Inkarnasi (“Firman itu menjadi manusia”). Sebagai yang telah mengambil “Rupa Hamba”, Yesus jelas lebih rendah dari Allah, jadi Allah memang lebih besar dari Yesus, dari titik pandang karya Inkarnasi ini. Dengan demikian dalam arti ini Allah memang AllahNya Yesus Kristus; “Kata Yesus kepadanya:”..Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu. AllahKu dan Allahmu” (Yohanes 20:17, Wahyu 3:12). Dan dalam arti sebagai Hamba Allah ini Ia dapat mengatakan : “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak ada seorang pun tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja” (Markus 13:32). Meskipun ini tak berarti bahwa dalam ke-Ilahi-an Nya sebagai Firman Allah yang kekal Ia tak tahu kapan datangnya kiamat. Sebab jikalau Ia mengetahui tanda-tanda akan datangNya kiamat, dan tanda – tanda akan kedatanganNya yang kedua kali, serta apa yang akan terjadi menjelang kiamat dan kedatanganNya yang begitu rinci dan mendalam itu, apakah sulitnya Ia untuk mengetahui kapan datangnya Hari itu (Matius 24). Perkataan diatas hanya diucapkan untuk memuliakan Sang Bapa, karena untuk tujuan itu Ia datang kedalam dunia. Dan karena Inkarnasi Kristus akan bersifat kekal, maka dari sini kodrat kemanusiaanNya ini maka di Hari Kiamat nanti :”…Anak akan menakhlukkan diriNya sendiri dibawah Dia, yang telah menakhlukkan sesuatu dibawahNya, supaya Allah menjadi semua didalam semua” (I Kor 15:29). Dan semua ayat manapun dalam seluruh Alkitab yang menunjukkan seolah-olah Yesus itu berbeda dan lebih rendah dari Allah, harus dilihat dari dua titik pandang ini. Entahlah dalam titik pandang kekal, sebagai “hypostasis Firman yang diperanakkan oleh Bapa” dimana Allah itu menjadi sumber dan asal-usulNya. Ataukah dari titik pandang Inkarnasi, dimana sebagai yang telah mengambil “Rupa Hamba” Ia memang makhluk Allah dan tidak sama serta lebih rendah dari Allah. Namun dalam keberadaanNya sebagai “Firman Allah” (Yoh 1:1), “Gambar Allah” (Kol 1:15, Ibr 1:3). “Rupa Allah” (Fil 2:5-6), “Anak Allah Yang Tunggal” (Yoh 1:18), Ia itu “setara dengan Allah” artinya melekat satu di dalam diri Allah, yang memiliki dzat-hakekat keilahian yang identik satu dan sama di dalam diri allah itu. Jadi semua mukjizat-mukjizat Yesus itu bukan “penyebab” Ia dianggap dan diper-Ilah sebagai Allah oleh orang Kristen Orthodox, namun justru sebaliknya, mukjizat-mukjizat itu bukti ke-Ilahi-anNya. Para polemikus sering mempermasalahkan bahwa jika Adam lahir tanpa Bapak-Ibu padahal Yesus lahir tanpa bapa saja mengapa Adam tidak dianggap Tuhan ? Jika Musa berbuat mukjizat dan Yesus juga berbuat mukjizat mengapa Musa tidak dianggap Tuhan, Jika Elia naik ke sorga dan Yesus naik ke sorga mengapa Elia tidak dianggap Tuhan ? dan pertanyaan lain yang senada dengan itu. 


Jawabannya :
1. Jika masalah mukjizat yang dijadikan acuan: tak satupun dari Nabi-Nabi yang disebutkan tadi dapat melakukan mukjizat seperti Yesus: Adam lahir tanpa bapak ibu, namun tak berbuat mukjizat, Musa dan Elia berbuat mukjizat , namun mereka tidak bangkit dari antara orang mati, dan tidak dilahirkan tanpa bapak-ibu, masing-masing ini hanya melakukan mukjizat-mukjizat sebagaian saja, sedangkan tak satupun yang dapat mengalahkan mukjizat Yesus. Lahirnya secara mukjizat, pelayanannya selurunya bersifat mukjizat, dan naik ke sorgaNya diberi segalah kuasa disorga dan diatas bumi. Tak seorang Nabipun yang memiliki syarat-syarat mukjijat seperti ini. Ini disebabkan para Nabi itu memang bukan Tuhan karena umat Kristen Orthodox mengakui Yesus sebagai Tuhan bukan disebabkan oleh “mukjizat-mukjizat” itu. Mukjizat-mukjizat Yesus bukti keberadaan kekalNya sebagai “Firman Allah” jadi bukan –“penyebab”- . Ia diangkat menjadi Tuhan.

2. Dari pengakuan-pengakuan Yesus sendiri. Ia mengakui sudah ada sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5,24, 8: 56-58), Ia menyatakan sudah berada di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan (Yohanes 17:5), Ia menyatakan “keluar dari Allah” (Yohanes 8:42), Ia menyatakan diri telah turun dari sorga (Yohanes 6:38), Ia menyatakan diri bukan berasal dari dunia ini (Yohanes 17:15) dan masih banyak lagi. Tak seorang Nabipun yang mengaku demikian ini. Dan pengakuan – pengakuan tadi dibuktikan oleh mukjizat-mukjizat tadi, yang berpuncak pada mukjizat kebangkitanNya dari antara orang mati. Tak ada seorang pun bangkit dari maut dan hidup terus, apalagi bangkit dari kekuatan kuasaNya sendiri seperti yang dilakukan Yesus (Yohanes 10:17-18). Peristiwa-peristiwa orang yang dihidupkan dari kematian baik oleh Nabi Elia, Elisa, maupun oleh Yesus Kristus itu hanya bersifat sementara, dan akhirnya orang itu mati lagi, jadi tak dapat disamakan dengan kebangkitan Yesus Kristus ke sorga. Karena mereka tidak bangkit dari kematian, namun hanya sekedar diangkat ke sorga, untuk natinya turun lagi kebumi agar mengalami kematian di tangan Anti-Kristus (Maleakhi 4:5-6, Wahyu 11:3-12), lalu dibangkitkan oleh kuasa Allah, naik ke sorga. Jadi prosesnya sama dengan manusia lain yang akan dibangkitkan diakhir jaman nanti, namun berbeda dengan kenaikan Yesus ke sorga yang diangkat dalam kemuliaan, diberikan segala kuasa baik di sorga maupun di bumi, serta yang duduk disebelah kanan Allah. Semua “kelemahan-kelemahan” Yesus: sebagai bayi kecil yang lemah, merasa lapar, merasa haus, bersedih, takut, berteriak “Eli, Eli Lama Sabakhtani” ketika disalibkan, mengalami kematian, dan segenap cirri-ciri kemanusiaan yang lain, adalah bukti bahwa Yesus benar-benar manusia sejati. Jika ia tidak memiliki itu semua Ia justru bukan manusia, dan ini bertentangan dengan ajaran Alkitab bahwa Firman itu “TELAH MENJADI MANUSIA” (Yohanes), dan bahwa: “…DALAM SEGALAH HAL IA HARUS DISAMAKAN DENGAN SAUDARA-SAUDARANYA (Manusia)..” (Ibr 2:17). Data-data “kelemahan-kelemahan” Yesus secara manusia itu adalah bukti kebenaran Alkitab yang menyatakan bahwa dalam segalah hal Yesus sama dengan manusia. Dan sering data-data kemanusiaan ini yang digunakan oleh para polemikus Islam untuk menyangkal ke-Ilahi-an Yesus. Kita juga akan menyangkal ke-Ilahi-an Yesus dari data kemanusiaan itu, karena Iman kita mengatakan yang manusia dalam Yesus itu tak berbaur dengan yang ilahi. Yang Ilahi adalah inti pribadi terdalam dari manusia Yesus yang adalah “Firman Allah” (yang meskipun sedang nuzul sebagai manusia, pada saat yang bersamaan tetap hadir satu dalam dzat hakekat Allah), dan itulah yang kita sembah, bukan makhluk manusiaNya. Kita tak menyembah makhluk namun menyembah Allah dalam FirmanNya. Dalam jubah “daging kemanusiaanNya” itu pandangan Iman orang Kristen Orthodox tidak hanya berhenti disitu saja, namun dapat menembus jauh kedalam, yaitu melihat Firman yang menjadi inti pribadi Yesus sebagai Firman Allah. KemanusiaanNya adalah jubah ke-ilahi-anNya dalam nuzulnya atau turunNya serta penampakanNya kepada manusia. Kita tidak menyembah jubahNya, namun inti pribadi yang ada di dalam jubah itu, yaitu “Firman Allah”, namun karena jubah itu tak dapat dilepaskan dari Sang Pemakai Jubah, maka penyembahan kita harus melalui dan melewati jubah itu untuk sampai kepada Sang Pemakai Jubah itu, yaitu Firman Allah sendiri, karena Ia berada dalam jubah itu, dan tak terpisah dari Jubah itu, karena jubah itu berwujud suatu kemanusiaan yang hidup dan berakal-pikiran secara sempurna. Itulah sebabnya mukjizat-mukjizat Yesus memang tak dapat disamakan dengan mukjizat siapapun dari antara para Nabi, maka jelas tak mungkin seorang Kristen Orthodox dapat mengakui siapapun diantara para Nabi sebagai Tuhan dikarenakan mukjizat-mukjizat mereka, karena mereka memang bukan Allah. Sedangkan Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan (Yohanes 13:13), karena Ia memang adalah Firman Allah yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1).

Senin, 19 Agustus 2013

Firman Allah “Diperanakkan dari Bapa” serta Roh Allah “Keluar dari Bapa”

Oleh : Romo Yohanes Bambang, MTS.


Sudah kita bahas bahwa ciri khas hypostasis dari Firman Allah adalah “diperanakkan dari Bapa”. Maksud “diperanakkan dari Bapa” adalah Firman Allah itu “diwahyukan oleh Bapa” dengan maksud supaya Bapa melihat diriNya sendiri. Dengan demikian Bapa melihat gambarNya sendiri, karena Firman Allah adalah “Gambar Allah yang tak kelihatan” ( Kol 1:15), serta “Gambar Wujud/Kharakter” yaitu “tindasan tepat” dari keberadaan Allah sendiri ( Ibr 1:3). Melalui “pewahyuan diri Allah” inilah “Gambar Allah” itu terlahir secara kekal, itulah sebabnya keberadaan pewahyuan kekal di dalam diri Allah ini disebut sebagai “diperanakkan”Nya Firman Allah dari Bapa, dan dengan demikian Firman itu sendiri mendapat julukan sebagai “Anak Allah”, meskipun Allah itu secara biologis tak beranak dan tak diperanakkan, karena Allah itu memang tak memiliki sifat biologis.

Sedangkan ciri khas dari hypostasis Roh Allah adalah bahwa Roh Allah itu “keluar” dari Bapa. Dan sudah kita bahasa bahwa “keluarnya” Roh Kudus dari Bapa ini bukan dimaksudkan sebagai penyataan diri Allah, namun untuk memantulkan Firman Allah/Putra ini kembali pada Bapa. Jadi Roh Kudus bukanlah sebagai yang menyatakan Diri Allah untuk menjadi Gambar Allah, sehingga karenanya Ia bukan disebut Anak, tetapi Ia adalah Roh sebagai lingkup untuk memantulkan Firman Allah/Putra kepada Bapa. Itu sebabnya “KeluarNya” Roh Kudus dari Bapa itu tidak disebut sebagai “diperanakkan” namun hanya “keluar” saja. Oleh sebab itu meskipun Firman Allah dan Roh Allah itu sama-sama keluar dari Allah, namun karena perbedaan cirri khas dan “hubungan yang ada” dengan dan di dalam Allah ini, maka kata “diperanakkan” bagi ciri khas Firman Allah ini dewngan kata “keluar” bagi ciri khas Roh Allah harus dibedakan dan harus dimengerti perbedaannya.


Roh Kudus Sebagai Roh Allah, Roh Bapa, Roh Anak Allah, Roh Kristus , serta Roh Yesus


Roh Kudus adalah Roh yang “bersemayam di dalam diri Allah” ( I Kor 2:10-11 ) dan yang “keluar dari Bapa” ( Yoh 15:26 ), sebagai hypostasis dari prinsip kuasa dan hidup Allah. Karena asal dan tempat bersemanyamNya secara kekal di dalam Allah inilah maka Roh Kudus itu disebut sebagai “Roh Allah” atau “Roh Bapa”, sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Suci demikian : “…Roh Allah turun seperti burung merpati…” (Mat 3:16). Sebutan “Roh Allah” bagi Roh Kudus ini dapat kita jumpai dalam banyak kita jumpai dalam banyak sekali ayat-ayat Perjanjian Baru (Mat 12:28, Rom 8:9,14, I Kor 2: 11,12,14, 3:16, 6:11, 7:40, 12:13,dll). Sedangkan sebutan Roh Kudus sebagai Roh Bapa dapat kita jumpai misalnya dalam pernyataan Kitab Suci yang demikian : “ Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; …di dalam kamu” (Mat 10:20).

Disamping itu, dalam kekekalan azali Roh Kudus selalu “memuliakan, bersaksi, dan memberitakan” yaitu menyatakan dan memantulkan kemuliaan Firman Allah/Putra, kembali kepada Bapa. Ini bermakna Roh Kudus itu secara penuh bersemayam dan tinggal dalam Firman Allah, atau Anak Allah. Karena hubunganNya dengan Anak Allah atau Firman Allah yang demikian inilah maka Roh Kudus disebut sebagai Roh Anak Alah, karena Dialah yang memuliakan dan yang menyaksikan Sang Putra ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Suci demikian : “…Allah telah menyuruh Roh AnakNya…” (Gal 4:6). Dan karena itu pula Ia disebut sebagai “Roh Kristus” (Rom 8:11) “Roh Yesus” (Kis 16:7). Dengan demikian yang dimaksud sebagai Roh Anak, Roh Yesus, Roh Allah dan Roh Bapa itu tak lain adalah Roh Kudus.

Dengan terdapatnya data Kitab Suci yang menyatakan Roh Allah sebagai Roh Anak, Roh Yesus, dan Roh Kristus, Gereja Barat (Roma Katolik, yang kemudian juga diikuti Protestan) menafsirkan bahwa Roh Kudus juga “Keluar” dari Anak, disamping Ia keluar dari “Bapa”. Sehingga Roh Kudus dinyatakan “keluar dari Bapa dan Anak”, dan muncullah “sisipan Filioque” pada Pengakuan Iman Nicea Yang asli. Pembahasannya akan kita lihat secara khusus dibawah nanti. Karena Roh Kudus yang bersemayam dalam Allah yang Esa (Bapa) itu juga keluar dari Bapa untuk tinggal dan bersemayam pada Firman (Putra), serta memantulkan Firman itu kepada Bapa dan menyatakan Firman tadi, maka jelaslah bahwa Roh Kudus itu memang hanya “keluar” dari Bapa, namun bersemayam dalam Firman, sehingga Ia disebut juga sebagai Roh Anak, atau Roh Kristus. Namun Ia tidak keluar dari “Bapa dan Anak”. Disamping itu sebutan tersebut disebabkan oleh hubungannya dengan manusia dimana Roh Kudus yang “keluar dari Allah” itu dicurahkan kepada manusia melalui Kristus yang sudah bangkit itu, sehingga menyebabkan Roh Kudus itu disebut sebagai “Roh Anak”, “Roh Yesus”, atau “Roh Kristus” itu, namun sejak kekal Roh Kudus hanya keluar dari Bapa saja, sebagaimana yang dikatakan : “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah ….dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah (yaitu: diangkat ke sorga serta duduk disebelah kanan Allah) dan menerima Roh Kudus (yaitu: dari Allah yang telah membangkitkan dan meninggikanNya itu; berarti Roh Kudus itu sejak kekal memang hanya keluar dari Allah saja) yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya (yaitu: Roh Kudus yang hanya keluar dari Allah yang telah dikaruniakan kepada Yesus sesudah peninggihanNya itu, oleh Yesus dicurahkan kepada manusia. Sehingga manusia menerima Roh Kudus yang sejak kekal hanya keluar dari Allah/Bapa itu melalui Yesus Kristus. Karena turunNya dan dicurahkanNya kepada manusia terkait dengan Yesus itu maka Roh Allah yang sejak kekal hanya keluar dari Allah/Bapa saja itu, juga disebut sebagai “Roh Anak”, Roh Yesus” dan “Roh Kristus”) apa yang kamu lihat dan dengar disini” (Kis 2:32-33). Dalam makna inilah maka Kitab Suci menyebut Roh Allah itu secara silih berganti dengan sebutan sebagai Roh Kristus, bahkan sebagai Kristus sendiri. Hal itu dapat kita lihat dalam kutipan Kitab Suci dibawah ini :


“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam didalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus ia bukan milik Kristus. Tetapi jika kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi Roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam didalam kamu, maka Ia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara oirang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh RohNya, yang diam di dalam kamu.” (Roma 8:9-11).

Kutipan ayat-ayat di atas ini menunjukkan kesilibergantian nama yang digunakan untuk Roh Allah itu. Ia disebut “Roh” saja untuk menunjukkan hypostasisNya pada diriNya sendiri tanpa hubunganNya dengan Bapa dan FirmanNya. Namun Ia disebut sebagai “Roh Allah diam di dalam kamu” untuk hubunganNya dengan Allah, sebagai yang keluar dan bersemayam dalam Diri Allah karena Dia adalah RohNya Allah. Selanjutnya Roh itu juga disebut sebagai “Roh Kristus” : “… tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus,…” untuk menunjukkan “KeluarNya” Roh itu dari Allah adalah untuk bersemayam pada Firman baik secara kekal maupun setelah penjelmaanNya sebagai manusia yang bergelar sebagai “Kristus”. Sehingga Roh itu juga adalah Roh Kristus, karena bersemayam di dalam Kristus. Selanjutnya Roh Kristus juga disamakan dengan Kristus sendiri, sebagaimana yang dikatakan :”…jika orang tidak memiliki Roh Kristus ia bukan milik Kristus . Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu….”. Menurut ayat ini “memiliki Roh Kristus” berarti “Kristus di dalam kamu”, yang berarti Roh Kristus itu identik dengan Kristus sendiri. Maka ayat ini adalah bersemanyaNya Roh Kudus di dalam manusia maupun dipantulkanNya kepada Bapa dari Firman, itu bukanlah untuk menyatakan diriNya sendiri tetapi menyatakan Kristus. Baik itu dalam kekekalan azali dalam hubungan interaksi yang ada antara Allah, FirmanNya dan RohNya dalam diriNya yang Esa, maupun pada saat menyatakan Kristus kepada manusia. Sehingga jika Roh Allah yang hadir, otomatis Roh itu menghadirkan Kristus, sehingga Kristus sendiri yang hadir melalui Roh tadi.

Selanjutnya dikatakan: “Dan jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati” Dalam kalimat ini Roh Kristus itu disebut sebagai “Roh Dia yang membangkitkan Yesus”, padahal yang membangkitkan Yesus adalah Bapa, berarti Roh Kristus disini disebut sebagai Roh Bapa sendiri.selanjutnya Bapa atau Allah yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati itu dinyatakan sebagai yang “…akan membangkitkan tubuhmu yang fana ini oleh RohNya yang diam didalam kamu…” Berarti yang diam di dalam manusia beriman itu adalah RohNya Allah, tetapi juga RohNya Kristus, dan Kristus sendiri. Dengan demikian dalam kutipan kita diatas ada sebutan yang saling bertindih antara “Roh”, “Roh Allah/Bapa”, “Roh Kristus”, dan “Kristus” sendiri. “Roh Kudus” itu disebut “Roh” demikian saja, jika yang dimaksud adalah keberadaan hypostasisNya sendiri tanpa melihat hubungannya didalam Allah dan Firman Allah itu yang sedang dibahas. Namun dalam ayat-ayat lain dalam Kitab Suci ini pada diriNya sendiri juga diberi sebutan sebagai “Roh Kudus” untuk menunjukkan sifatNya yang kudus dan karyaNya yang menguduskan (Rom 5:5, I Kor 6:11). Disamping itu sebagai yang menyampaikan Kristus “Sang Kebenaran” itu (Yoh 14:6), maka Roh Allah itu pada diriNya sendiri juga disebut sebagai “Roh Kebenaran” (Yoh 14:17, 15:26). Namun jika dilihat dalam hubungannya dengan Allah sebagai yang “diam didalam diri” Allah (I Kor 2:10-11), dan yang “keluar dari Bapa” (Yoh 15:26) maka Roh itu disebut sebagai “Roh Allah” atau “Roh Bapa”. Sedangkan dalam hubunganNya dengan Kristus (Anak Allah, Firman Allah yang menjadi manusia) sebagai sasaran akhir keluaNya dari Bapa serta sebagai yang dimuliakan, disaksikan, dinyatakan serta dihadirkan oleh Roh itu maka Ia disebut sebagai “Roh Anak”, serta “Roh Kristus” atau disebut “Kristus” sendiri. Demikian juga dalam hubunganNya dengan Allah, Roh Kudus pada saat yang bersamaan disebut sebagai “Roh Allah dan “Allah” sekaligus hal ini dinyatakan demikian :


“Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam didalam kamu ?” ( I Kor 3:16 ).

Ayat ini menjelaskan bahwa umat Korintus (“kamu”) adalah “Bait Allah” atau “Rumah Allah”. Ini bermakna bahwa Allah berada dalam komunitas umat Korintus, seolah-olah sebagai RumahNya, yang berarti Allah itu dia di dalam umat itu. Namun selanjutnya dinyatakan bahwa “Roh Allah” itu yang diam di dalam “kamu”. Dengan demikian komunitas umat Korintus itu dikatakan sebagai “Bait Allah” atau “Rumah Allah”, karena Roh Allah diam didalam mereka. Berarti Allah diam pada umat itu di dalam “Roh Allah” itu juga disebut “ Allah” sendiri. Sebab Allah menghadirkan diri melalui Roh itu, di dalam kristus. Jika Kristus hadir maka Allah yang dinyatakan, dan cara Kristus hadir adaalah melalui Roh Allah. Itulah sebabnya dikatakan :


“Didalam Dia (Kristus) kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” ( Ef 2:22 ).

Allah hadir dalam umatnNya sebagai “tempat kediaman Allah” oleh Kristus, didalam Roh. hadirNya Roh Allah berarti sekaligus hadirNya Allah sendiri. Dari beberapa bagian Kitab Suci yang telah kita kutip di atas dapatlah kita ambil kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. Jika Roh Allah hadir, maka Roh Kristus itulah yang hadir, dan sekaligus Kristus itulah yang hadir. Jika Roh Kristus itu hadir maka Roh “Dia yang membangkitkan Kristus” atau “Roh Bapa/Allah” itulah yang hadir. Jika Roh Allah hadir maka Allah itu sendiri yang hadir. Jika Kristus hadir maka Allah itulah yang hadir, karena “Kemuliaan Allah… Nampak pada wajah Kristus”, dan “…Aku didalam Bapa dan Bapa didalam Aku …” sehingga jika Roh Allah hadir maka “Bapa dan Anak” itu sekaligus hadir. Seb agaimana yang dikatakan demikian :


“Aku akan meminta kepada Bapa, dan ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamaNya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak mengenal Dia sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kembali kepadamu. tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku didalamBapaKu dan kamu didalam Aku dan Aku didalam kamu. Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukanNya, dialahyang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun mengasihi diadan akan menyatahkan dirKu kepadanya. Yudas yang bukan Iskariot, berkata kepadaNya : “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diriMu kepada kami, dan bukan kepada dunia ?” Jawab Yesus :”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan KAMI (“Bapa dan Anak” = “Allah dan FirmanNya”) akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan Dia.” (Yoh 14:16-23).

Menurut ayat-ayat ini Roh Kebenaranlah yang akan diam di dalam manusia, namun juga jika manusia mengasihi Kristus, maka Bapa dan Putra itu yang akan diam bersama-sama dengan orang itu. Ini berarti yang hadir dalam manusia adalah Roh Allah dan FirmanNya sendiri yang hadir didalam manusia. Demikianlah memang Tritunggal Maha Kudus itu Esa adanya, karena kehadiran hypostasis yang satu itu juga adalah kehadiran hypostasis yang lain secara tak terpisahkan. Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam manusia, maka seluruh keberadaan Allah “Bapa dan Anak” (“Allah dan Firman”), dan sekaligus “Roh Allah” itu sendiri yang tinggal; pada manusia. Maka dapat dikatakan bahwa keseluruhan keberadaan Tritunggal Maha Kudus itu bukan tiga ilah atau tiga Tuhan yang berbeda-beda dan terpisah-pisah, namun keberadaan realita konkrit (hypostasis) di dalam Diri Allah yang Esa itu sendiri. Sebab hadirNya Roh Kudus itu untuk menyatakan Anak Allah/Firman Allah, dengan demikian Firman Allah berada didalam Roh Kudus. Padahal Firman Allah/Anak Allah itu menyatakan Bapa, berarti Bapa ada di dalam firman Allah/Anak Allah. Sebaliknya baik Roh Allah maupun Anak Allah itu berada di dalam Allah, berarti memang ketiga hypostasis itu memang Esa tak terpisahkan. Sehingga kehadiran hypsostasis yang satu adalah kehadiran keseluruan hypostasis dalam Allah yang Esa itu. Karena dalam ketiga hypostasis itu hanya terdapat satu dzat-hakekat Allahg, dan di dalam masing-masing hypostasispun dzat-hakekat Allah yang satu dan yang sama itu yang hadir, sedangkan ketiga hypostasis itu juga berada dalam dzat-hakekat Allah yang satu itu. Maka sebagai roh Allah yang bersemanyam di dalam dzat-haekat Allah yang satu bersama Firman Allah, maka Roh Kudus mempunyai sifat yang satu dengan “Bapa dan Puta” itu yaitu sifat “dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia”, yang artinya manusia tak dapat mengerti Dia tanpa pewahyuan Dirinya. Hal ini yang sama berlaku bagi sifat “Bapa dan Anak”, sebagaimana yang dikatakan :


“…tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakanNya.” (Mat 11:27).

Kebenaran ini menunjukkan bahwa sifat-sifat Allah itu adalah tunggal. Sifat Allah, yang dalam hal pembahasan kita ini adalah sifat “tak dapat diketahui” itu, karena Allah mempunyai sifat dzat-hakekat atau (essensi) yang hanya satu, karena Allah itu Esa. Sehingga jika Bapa (Allah yang Esa) tidak dimengerti manusia, maka Anak (Firman Allah) dan Roh Kudus (Roh Allah) pun tidak dapat dimengerti oleh manusia. Roh Allah dan Firman Allah itu memang satu dengan Bapa dan di dalam Bapa. Hanya melalui penyataan Anak (Firman Allah) oleh Roh Kudus itu saja, sifat "ketakdapat dimengertian" Allah ini dapat tersingkap. Karena Roh Kudus itulah yang menyatakan Kristus. Anak berkenan menyatakan Diri kepada manusia melalui Roh Kudus, dan melalui penyataan diri Anak didalam Roh Kudus ini Bapa dinyatakan kepada manusia.

Karena sifatnya yang saling bersemayam diantara hypostasis-hypostasis didalam diri AllahnYang Esa itu, maka hadirNya Roh Kudus adalah hadirNya Kristus, dan hadirNya Kristus dalam Roh Kudus ini adalah hadirNya Allah sendiri. Dengan demikian Roh Kudus tidak menyatakan apapun, selain wahyu Allah yang satu-satunya itu yaitu : Yesus Kristus. Roh Kudus bukanlah roh liar yang lepas dari Firman Allah, namun Ia adalah Roh Allah yang terkait dengan Firman Allah baik Firman itu sebelum menjelma menjadi manusia maupun sesudahnya, sehingga Ia disebut Roh Yesus dan sekaligus Roh Allah. Bersama dengan Firman Allah, Roh Allah ini berada satu didalam diri Allah yang Esa. Karena Allah itu memang Esa dan tidak ada Allah lainselain yang Esa ini ( I Kor 8:4), yang sejak kekal berada dalam diriNya FirmnaNya sendiri dan RohNya.